HARGA KHUSUS BATU BARA PLTU, PLN Bisa Hemat Rp20 Triliun

Kebijakan harga khusus untuk batu bara yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan berdampak positif terhadap kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pada 2018.
Denis Riantiza Meilanova | 13 Maret 2018 13:09 WIB
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (7/3/2018). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan harga khusus untuk batu bara yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan berdampak positif terhadap kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pada 2018.

Harga khusus batu bara untuk PLTU ditetapkan US$70 per ton selama Januari 2018—Desember 2019.

PLN diproyeksikan mampu melakukan penghematan sekitar Rp16 triliun—Rp20 triliun pada 2018.

Dengan penghematan biaya produksi tersebut, laba perseroan pun ditaksir dapat kembali meningkat menjadi sekitar Rp10 triliun—Rp15 triliun dibandingkan dengan 2017 hanya Rp4 triliun.

Melambungnya harga batu bara yang rata-rata sebesar US$85,92 per ton pada 2017 sempat membuat laba perseroan tergerus menjadi Rp4 triliun.

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat Haryanto W.S mengatakan bahwa hal utama untuk menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik adalah dengan menurunkan biaya energi primer.

Pihaknya pun merasa lega ketika pemerintah memutuskan mematok harga batu bara untuk PLTU sebesar US$70 mengingat 60% produksi listrik PLN dari batu bara.

“Alhamdulillah dengan Kepmen [Keputusan Menteri] ini keluar kami akan menghemat biaya tidak kurang dari Rp16 triliun di 2018,” ujar Haryanto di Jakarta, Senin (12/3/2018).

Laba perseroan dalam 2 tahun terakhir memang terus mengalami penurunan.  Penurunan tersebut seiring dengan meningkatnya harga batu bara di pasaran.

Berdasarkan data keuangan PLN, laba bersih PLN pada 2016 tercatat senilai Rp10,55 triliun.  Realisasi tersebut mengalami penurunan sebesar 32,28% bila dibandingkan dengan capaian laba pada 2015, yakni senilai Rp15,58 triliun.

Rerata harga batu bara acuan (HBA) pada 2016 tercatat meningkat menjadi US$61,84 dari sebelumnya pada 2015 sekitar US$60,13 per ton. Sementara itu, tarif dasar listrik rata-rata untuk semua golongan per Desember 2016 tercatat Rp1.198 per kWh, sedangkan tarif dasar listrik per Desember 2015 tercatat Rp1.224 per kWh.

Alokasi subsidi listrik PLN pada 2016 adalah Rp60,44 triliun atau sedikit meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp60,13 triliun.

Adapun harga batu bara pada 2017 melesat jauh mencapai US$85 per metrik ton.  Melambungnya harga batu bara tersebut membuat biaya PLN membengkak sekitar Rp14 triliun.

Sebelumnya Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir mengatakan kenaikan biaya yang harus ditanggung PLN membuat laba PLN tersisa Rp3 triliun-Rp4 triliun.

Dia berujar jika menggunakan patokan harga sekitar US$60-US $70, laba diperkirakan dapat kembali meningkat mencapai Rp10-Rp15 triliun tahun ini.

Sementara itu, Direktur Pengadaan Strategis  PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan dengan patokan harga batu bara US$70 PLN dapat membeli mayoritas kebutuhan batubara dengan harga rata-rata sekitar US$37-US$43 per metrik ton.  

"Untuk kalori 4200 kira-kira US$37. Untuk yang 5000 mungkin US$43 lebih per ton," ujar Iwan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 9/3/2018.

Dengan harga beli tersebut maka untuk kebutuhan batu bara yang berkisar 85 juta-89 juta ton tahun ini, PLN dapat menghemat hingga Rp20 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top