Produksi Kakao Anjlok, AIKI Minta Tolong Ke Pemerintah

Asosiasi Industri Kakao Indonesia mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap tanaman perkebunan di Indonesia, khususnya kakao, menyusul semakin menurunnya produksi komoditas tersebut.
Juli Etha Ramaida Manalu | 16 Februari 2018 00:25 WIB
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Industri Kakao Indonesia mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap tanaman perkebunan di Indonesia, khususnya kakao, menyusul semakin menurunnya produksi komoditas tersebut.

AIKI (Asosiasi Industri Kakao Indonesia) mencatat penurunan produksi  kakao  terjadi setidaknya selama 10 tahun terakhir. Bahkan, sepanjang 2017 produksi komoditas tersebut tercatat hanya  250.000 ton atau mengalami penurunan sebesar 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Makanya, tadi saya sampaikan, minta perhatian dari Kementerian Pertanian supaya produksi ini ditingkatkan lagi,” katanya di sela sela Focus Group Discussion (FGD) Membangun Industri Nasional Berkelanjutan, Sektor Industri Agro yang diadakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Kamis (15/2/2018).

Sindra memaparkan ada sejumlah hal yang membuat produksi kakao di Indonesia terus menerus tergerus. Salah satunya adalah usia tanaman kakao yang pada umumnya telah berumur atau tua, serangan hama yang belum bisa diatasi secara tuntas, program gerakan nasional (Gernas) yang dinilai belum berdampak signifikan, serta peralihan fungsi lahan kakao menjadi perkebunan tanaman lain, juga fokus pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, yang menurutnya lebih tertuang pada tanaman padi, jagung, dan kedelai.

“Nah [karena hal-hal] itulah akhirnya produksi kakao kena dampaknya, turun,” tambahnya.

Sebagai dampaknya, para pemain industri penghasil produk olahan kakao dalam negeri merasa kesulitan mendapatkan bahan baku utama. Industri yang sebelumnya hanya mengimpor  kakao dari luar negeri sebagai bahan campuran, saat ini mulai menggunakan produk tersebut sebagai bahan utama agar pabrik bisa terus beroperasi.

Sindra menyebutkan, ekspor biji kakao kering tahun lalu mencapai 226.000 ton yang didatangkan dari Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria, dan Ekuador. Sementara serapan biji kakao dalam negeri hanya mencapai 225.000 ton. Pasalnya, selain produksi yang semakin sedikit, sebanyak 25.000 ton biji kakao dalam negeri dialokasikan untuk tujuan ekspor pada 2017.

Tag : kakao
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top