INDUSTRI PUPUK 2018: Konsumsi Urea Diprediksi Landai

Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia, APPI, menilai konsumsi urea di dalam negeri sepanjang tahun ini tidak akan berbeda jauh dengan tahun lalu.
Andry Winanto | 14 Februari 2018 20:05 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat pupuk urea di gudang pupuk lini III PT Pupuk Kujang, di Klari, Karawang, Jawa Barat, Jumat (19/5). - Antara/Gilang

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia, APPI, menilai konsumsi urea di dalam negeri sepanjang tahun ini tidak akan berbeda jauh dengan tahun lalu.

Berdasarkan data yang dilansir APPI, konsumsi pupuk urea untuk pasar dalam negeri sepanjang 2017 tercatat mencapai 5,97 juta ton. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan konsumsi pupuk pada sepanjang 2016 yang sebesar 5,32 juta ton.

Sekretaris Jenderal APPI Dadang Heru Kodri mengatakan pertumbuhan konsumsi urea tidak akan terlalu signifikan dikarenakan program subsidi pupuk pemerintah tidak banyak berubah.

“Selain itu, untuk perkebunan juga belum banyak berubah. Industri pun demikian, kemudian prediksi musim hujan yang panjang akan sama seperti tahun lalu,” ujarnya di Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Sebagai informasi, konsumsi pupuk urea sepanjang 2017 merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Adapun, konsumsi tertinggi kedua terjadi sekitar 9 tahun lalu tepatnya pada 2009 sebesar 5,78 juta ton.

Dari sisi penggunaan, konsumsi pupuk urea sepanjang tahun lalu untuk pertanian yang mencapai 4,10 juta ton. Kemudian, untuk tanaman perkebunan sebanyak 1,01 juta ton, dan industri sebesar 847.000 ton.

Pupuk urea merupakan jenis yang paling banyak diproduksi pabrikan nasional. Selain itu, pupuk urea juga tercatat sebagai produk yang paling banyak dikonsumsi di dalam negeri.

Sebagai informasi, produksi pabrikan domestik sepanjang tahun lalu mencapai 6,83 juta ton. Angka tersebut meningkat dari total produksi 2016 sebesar 6,46 juta ton.

Sementara itu, untuk pasar mancanegara atau ekspor, realisasi konsumsi urea tahun lalu merosot tajam dibandingkan periode 2016.

Hingga pengujung Desember 2017, ekspor urea tercatat sebesar 766.000 ton, atau lebih sedikit ketimbang ekspor 2016 yang mencapai 1,25 juta ton. Dengan kata lain, total ekspor pada sepanjang tahun lalu hanya berkisar setengah dari ekspor 2016.

“Industri terganggu soalnya tahun lalu. Pabrik Pupuk Iskandar Muda yang terganggu pasokan gasnya,” tuturnya.

Akibat hal tersebut, produksi yang dihasilkan pabrikan domestik lain difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pupuk di dalam negeri.

“Jadi kita mengamankan di dalam negeri dulu, kalau ekspor kan hanya kelebihan, bukan yang utama,” jelasnya.

Menurut Dadang, ekspansi industri urea nasional masih terganjal masalah klasik yaitu kurang kompetitifnya harga gas. Dia mencontohkan, beberapa produsen urea seperti Rusia, Amerika, serta negara-negara di Timur Tengah memperoleh harga bahan baku gas yang tergolong rendah.

“Amerika harga gasnya US$3 per MMBtu, Rusia di bawah US$3, dan Timur Tengah itu cuma US$1. Sementara di kita masih US$6 per MMBtu,” imbuhnya.

Untuk itu, Dadang berharap harga gas di dalam negeri bisa lebih bersahabat agar dapat bersaing dalam memperebutkan pasar internasional.

Dalam catatannya, harga gas menempati porsi sekitar 60%-70% dari total keseluruhan biaya produksi.

Adapun, negara-negara di kawasan Asia Tenggara masih menjadi primadona tujuan ekspor produk pupuk nasional, selain beberapa kawasan lainnya.

“Di Asean itu Vietnam dan Thailand yang banyak. Lalu, Australia juga, New Zealand, dan Amerika yang kita ekspor untuk jenis tertentu,” katanya.

Tag : pupuk
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top