Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W Kamdani mengatakan pemerintah mulai mengganti haluan untuk strategi ekspornya dari pasar tradisional ke nontradisional dengan menjajal masuk ke pasar Asia Selatan yang selama ini belum menjadi perhatian pemerintah.
Sejumlah negara potensial ekspor selain India menurutnya seperti Pakistan, Sri Lanka dan Bangladesh. Ketiga negara itu disebut memiliki ketertarikan yang kuat untuk menjalin kerja sama dagang. Shinta menyebut kawasan Asia Selatan memiliki potensi yang besar untuk strategi ekspor. Apalagi jumlah penduduk di kawasan tersebut cukup menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan negara itu.
“Dari segi perjanjian dagangnya, Pakistan dan RI akan melakukan PTA dalam proses agreement, dengan Sri Lanka sepertinya mengarah pada CEPA tapi khusus untuk trade in goods-nya, jadi khusus untuk tarifnya saja,” kata Shinta kepada Bisnis, Senin (5/2/2018).
Menurutnya, sebelum pemerintah melakukan perjanjian dagang dengan negara kawasan tersebut, sejumlah pengusaha tekstil dan farmasi telah lebih dulu melakukan transaksi dagang dengan negara-negara tersebut. Dengan perjanjian dagang nantinya, diharap meningkatkan perdagangan pengusaha Tanah Air ke negara tujuan.
Shinta juga menyinggung tentang pola dagang dengan menargetkan ekspor ke negara ketiga melalui Asia Selatan. Dia menjelaskan, pemerintah dapat memanfaatkan negara tujuan ekspor sebagai pemberhentian pertama. Kemudian hasil ekspor akan diolah sedikit lagi menjadi barang jadi sehingga dapat menembus pasar di negara ketiga. Apalagi negara tujuan lain yang tidak memiliki perjanjian dagang dengan RI.
“Misalnya ekspor garmen ke Sri Lanka, nanti mereka bisa membuat atau memasang kancingnya di Sri Lanka kemudian dari sana di ekspor ke negara lain. Jadi banyak yang bisa dikerjasamakan sebagai bagian dari penyaluran ekspor yang ada,” paparnya.
Adapun Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pekan lalu sempat menyebut upaya peningkatan kerja sama perdagangan dengan negara-negara mitra nontradisional di kawasan Asia Selatan merupakan salah satu prioritas pemerintah. Pasalnya selama ini potensi yang ada belum digarap dengan maksimal. Upaya ini diharapkan dapat memperluas dan mendiversifikasi pasar ekspor Indonesia agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di kawasan.
Enggar menyebut RI akan memulai perundingan perdagangan dengan Sri Lanka dan Bangladesh. Sementara itu dengan Pakistan, kedua negara sepakat melakukan peningkatan dari Perjanjian Preferensi Perdagangan (Preferential Trade Agreement/PTA) menjadi perundingan Perjanjian Perdagangan Barang (Trade in Goods/TIG).
Sementara itu, total ekspor nonmigas Indonesia dengan negara-negara Asia Selatan untuk tahun 2017 sebesar US$18,2 miliar. Total ekspor nonmigas Indonesia dengan Sri Lanka sebesar US$262,8 juta; India sebesar US$13,9 miliar; Pakistan sebesar US$2,4 miliar; dan dengan Bangladesh sebesar US$1,6 miliar. India, Pakistan dan Bangladesh termasuk dalam 10 besar negara penyumbang suplus perdagangan Indonesia.