Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BISNIS MEDIA CETAK, Nielsen: Koran Paling Banyak Dibaca

Industri media cetak mesti mengubah model bisnis untuk bisa tetap bertahan di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 06 Desember 2017  |  18:18 WIB
BISNIS MEDIA CETAK, Nielsen: Koran Paling Banyak Dibaca
Siswa Sekolah Menengah Atas Santa Ursula Bumi Serpong Damai membaca koran Bisnis Indonesia saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Selasa (16/5). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA-- Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina menuturkan dari survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) yang dilakukan dalam periode Oktober 2016-September 2017 terlihat bahwa penetrasi media cetak saat ini adalah 8%, dengan jumlah pembaca mencapai 4,5 juta orang. Dari jumlah ini, sekitar 83% di antaranya merupakan pembaca koran.

Di sisi usia, sebanyak 74% profil pembaca media cetak di Indonesia berada di kategori 20-49 tahun. Para pembaca media cetak juga ternyata sangat akrab dengan teknologi dan menjadi pembaca berita-berita versi online atau digital. Dengan demikian, jumlah pembaca media cetak hanya terlihat seakan-akan berkurang tapi ternyata banyak yang berpindah platform.

Hal ini turut menunjukkan bahwa ke depannya perubahan model bisnis, dengan penekanan ke digital, sangat penting untuk mempertahankan pembaca. Nielsen menyatakan media cetak tidak perlu lagi memperdebatkan mengapa harus go digital karena digital adalah masa depan.

"Bisnis kita ke depan harus dipertimbangkan. Bagaimana kita menggiring segmen ini untuk tetap membaca media cetak dan ketika membaca, mereka membaca media kita? Karena pilihannya banyak sekali, bisa streaming radio atau video," terang dia dalam paparan The Moment of Truth for Print Media In Order To Grow, Rabu (6/12/2017).

Evolusi bentuk dan konten menjadi hal penting yang mesti dilakukan agar dapat terus bertahan.

Apalagi, ungkap Nielsen, koran menjadi media cetak yang paling banyak dibaca karena masyarakat memandang media tersebut paling bisa dipercaya dibandingkan yang lainnya. "Ini menjadi value utama koran. Pembaca harus terus diedukasi supaya terus baca koran dan beri alasan lebih supaya mereka terus membaca koran," tambah Hellen.

Untuk tetap menarik bagi masyarakat, lanjut dia, media cetak bisa melihat cara yang dilakukan oleh radio saat ini dalam menarik pendengar. Radio-radio di Jakarta sepakat melakukan kampanye bersama ke masyarakat dengan penekanan bahwa radio anti berita bohong (hoax).

Namun, berpindah ke platform ke digital saja dinilai tidak cukup. Industri media cetak harus berpikir bagaimana memonetisasi aset-aset digitalnya selain yang berbentuk spot iklan.

Apalagi, pendapatan iklan di digital masih lebih rendah dibandingkan di media cetak. Hal ini diakui sebagai salah satu faktor yang membuat pengelola media cetak ragu-ragu mengembangkan produknya dalam bentuk digital.

Berdasarkan data Nielsen, dalam periode 2013-2017 terjadi penurunan belanja iklan di media cetak sebesar 13% dari Rp25 triliun menjadi Rp21,8 triliun. Namun, kondisi ini disebabkan oleh berkurangnya media cetak yang beroperasi, dari 268 judul menjadi hanya 192 judul.

Sebanyak 80% belanja iklan masih meluncur ke televisi. Per kuartal III/2017, belanja iklan tercatat mencapai Rp107,7 triliun atau tumbuh 8% dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya.

Perkembangan zaman juga ditandai dengan perubahan cara menarik pengiklan. Media cetak tidak bisa lagi mengandalkan jumlah pembaca, tapi harus tahu apa yang menjadi sasaran dari masing-masing pengiklan. Dengan demikian, media cetak dapat memberikan solusi kepada pengiklan mengenai bagaimana cara mencapai sasaran tersebut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

koran
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top