Namarin Gandeng Tianjin University Gelar Pelatihan Logistik dan Pelabuhan

The National Maritime Institute (Namarin) menggandeng Tianjin University sebagai rekan dalam program pelatihan logistik dan kepelabuhanan.
Abdul Rahman | 27 November 2017 17:40 WIB
Truk pengangkut peti kemas melintasi kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, di Jakarta, Kamis (3/8). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - The National Maritime Institute (Namarin) menggandeng Tianjin University sebagai rekan dalam program pelatihan logistik dan kepelabuhanan.

Direktur Namarin Siswanto Rusdi mengatakan latar belakang pihaknya membuat program tersebut karena kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni di bidang logistik dan ketatalaksanaan pelabuhan di Indonesia.

"Selama ini kan SDM kepelabuhanan yang ada hanya learning by doing saja. Seadanya dan tidak dilatih khusus. Celah ini yang ingin kami tutup, " katanya kepada Bisnis di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Adapun alasan memilih Tianjin University, kata Siswanto, karena selama ini Tianjin dikenal sebagai kota pelabuhan yang maju, khususnya dalam hal efisiensi dan otomatisasi pelabuhan.

Penandatanganan kerja sama tersebut dihadiri langsung oleh Presiden Tianjin University Profesor Zhong Denghua. Rencananya, program pelatihan ini akan mulai dilaksanakan pada awal tahun depan.

Siswanto mengatakan, target awal peserta sekitar 30 orang. Adapun tenaga pengajar didatangkan langsung dari Tianjin. Pelatihan akan dilakukan secara berjenjang. Mulai dari tahap dasar, intermediate, sampai advance.

"Per angkatan 30 orang supaya efektif. Sudah banyak yang berminat. Silabus dan tenaga pengajar langsung dari Tianjin, " imbuhnya.

Menurutnya, selama ini SDM logistik dan kepelabuhanan yang ada masih kurang. Kalaupun ada, dasarnya bukan sebagai ahli manajemen kepelabuhanan.

Padahal, kebutuhan ahli kepelabuhanan saat ini sangat besar. Apalagi dengan gencarnya pemerintah membangun pelabuhan - pelabuhan di seluruh Indonesia, ditambah lagi dengan program swastanisasi pelabuhan.

Dia khawatir, jika SDM dalam negeri tidak disiapkan sejak dini, lapangan kerja yang ada justru akan diisi oleh tenaga kerja asing. Adapun sekolah - sekolah pelayaran yang ada selama ini lulusannya tidak banyak dan belum tentu bekerja di pelabuhan.

"Kalau dengan swastanisasi tentu tak terhindarkan [tenaga kerja asing]. Kalau SDM dalam negeri tidak ada yang siap tentu mereka akan bawa sendiri, " terangnya.

Siswanto menjelaskan, perusahaan operator pelabuhan di Indonesia kemungkinan akan merekrut tenaga kerja kepelabuhanan dari Filipina atau Malaysia. Kedua negara tersebut selama ini dikenal sebagai penghasil tenaga kerja di sektor kelautan.

Dia berharap, dengan adanya sertifikat pelatihan dengan nama Tianjin University di dalamnya, bisa menjadi nilai jual bagi lulusannya untuk mendapatkan pekerjaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top