TKDN PLTU Masih Rendah, Ini Rinciannya

Persentase tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pembangkit listrik tenaga uap di Indonesia masih rendah. Salah satu kendalanya adalah industri dalam negeri belum mampu menciptakan teknologi yang mutakhir dan harga yang kompetitif.
Gemal AN Panggabean | 22 November 2017 20:25 WIB
Kapal nelayan melintas di depan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih, di Padang, Sumatra Barat, Minggu (23/7). - ANTARA /Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA - Persentase tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pembangkit listrik tenaga uap di Indonesia masih rendah. Salah satu kendalanya adalah industri dalam negeri belum mampu menciptakan teknologi yang mutakhir dan harga yang kompetitif.

Beberapa komponen PLTU masih jauh dari target TKDN sesuai yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 4/2009 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Salah satu komponen yaitu ketel uap atau boiler masih jauh dari ketetapan sesuai regulasi di atas. Berdasarkan data PT Sucofindo pesentase TKDN boiler masih 0,16%. Padahal, menurut regulasi itu, TKDN boiler harus mencapai 12,6%.

Kemudian, komponen electrical, seperti kabel dan lainnya juga masih 3.06% . Dalam Permen Perinustrian no.4/2009 komponen ini harus mencapai 5.57%. Sedangkan komponen panel instrumen dan kontrol masih 0% atau seluruhnya masih impor. Seharusnya TKDN komponen ini mencapai 0,68%.

Komponen struktur baja juga masih jauh dari ketetapan 14,46%. Hingga kini, persentase komponen ini hanya 8,19%. Sementara komponen penunjang pembangkit atau balance of plant masih 0,16% jauh dari angka yang ditetapkan pemerintah 9,17%. Sedangkan komponen lain, seperti turbin dan generator belum diatur.

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian Zakiyudin mengatakan, salah satu kendalanya, industri dalam negeri belum siap memenuhi permintaan perusahaan PLTU dalam negeri.

“Sebagian besar pembangkit listrik membutuhkan teknologi yang mumpuni dan mutakhir. Mereka lebih memilih komponen dari luar negeri,” katanya di sela acara Focus Discussion Group di Jakarta, Rabu (22/11).

Di samping itu, perusahaan penunjang kelistrikan dari luar negeri, seperti General Electric dan Siemens juga terus menyasar beberapa proyek infrastruktur kelistrikan dengan teknologi yang lebih canggih dan dengan harga yang berkompeten.

Padahal, menurut Zakiyudin, ada beberapa industri dalam negeri yang bergerak di sektor penunjang kelistrikan. Dia berharap sektor ini dapat bersaing dengan perusahaan negara lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tkdn

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top