Ekspor Pulp Masih Kinclong

Kinerja ekspor bubur kertas nasional masih kinclong hingga Oktober 2017.
Annisa Sulistyo Rini | 17 November 2017 18:32 WIB
Perkebunan akasia di Sungai Baung, Air Sugihan, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA--Kinerja ekspor bubur kertas nasional masih kinclong hingga Oktober 2017.

Badan Pusat Statistik merilis nilai ekspor bubur kertas sepanjang Januari-Oktober tahun ini mencapai US$1,91 miliar atau tumbuh 50,36% dibandingkan capaian periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$1,27 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Aryan Warga Dalam mengatakan permintaan bubur kertas dunia memang masih besar. Produsen juga diuntungkan dengan harga bubur kertas yang masih tinggi.

"Kami juga ekspornya ke banyak negara, seperti China, Korea Selatan, India, Jepang. Thailand juga kami kirim," ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (17/11/2017).

Saat ini, Indonesia menduduki peringkat sembilan dalam industri bubur kertas dunia. Pasokan pulp nasional diperkirakan sebesar 6 juta ton per tahun hingga 8 juta ton per tahun.

Industri bubur kertas Indonesia berpeluang semakin besar dengan faktor geografis yang lebih dekat dengan pasar terbesar, yaitu China, dan didukung kecepatan tumbuh pohon sebagai sumber bahan baru yang terbarukan.

Seiring dengan permintaan bubur kertas yang meningkat, ekspor kertas juga mengalami kenaikan sebesar 9,76% y-o-y sepanjang Januari-Oktober 2017 dari US$2,84 miliar menjadi US$3,12 miliar.

Aryan menuturkan permintaan kertas juga mengalami peningkatan seiring dengan kebutuhan dunia yang tumbuh pesat, terutama kertas karton untuk kemasan. Selain itu, kapasitas produksi kertas Amerika Serikat dan Jepang yang tidak bertambah membuat permintaan ke Indonesia naik.

"Daya saing industri pulp dan kertas Indonesia itu sudah kuat di dunia, makanya banyak dituduh dumping di berbagai negara," katanya.

Adapun, kertas produksi dalam negeri banyak dikirim ke negara-negara berpenduduk besar, seperti China dan India.

Lebih jauh, Aryan menuturkan permintaan kertas untuk penerbitan saat ini tumbuh stagnan, sedangkan kertas untuk koran menurun. Di sisi lain, kertas kemasan dan tissue mengalami pertumbuhan yang masih baik.

Secara keseluruhan, asosiasi memperkirakan industri pulp dan kertas nasional akan bertumbuh kisaran satu digit sepanjang 2017. "Saya perkirakan sekitar 4%-5% secara total," ujar Aryan.

Kementerian Perindustrian mencatat pada tahun lalu, jumlah industri pulp dan kertas nasional mencapai 84 perusahaan dengan kapasitas nasional terpasang berturut-turut sebesar 7,93 juta ton pulp/tahun dan 12,98 juta ton kertas/tahun.

Sebelumnya, Dewan Pakar APKI Rusli Tan mengatakan permintaan ekspor kertas naik dipengaruhi dengan kenaikan harga pulp, pabrikan kertas dari Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan yang tidak memiliki bahan baku dalam negeri, mengurangi produksi kertasnya.

Pasalnya, apabila pabrik kertas tidak memiliki pabrik pulp terintegrasi, biaya produksi akan semakin tinggi. Apalagi, kenaikan harga kertas tidak setara dengan kenaikan harga pulp dan ongkos produksinya. Sedangkan pabrik-pabrik kertas di Indonesia umumnya terintegrasi dengan pabrik pulp, sehingga bisa menghemat biaya dari sisi energi sebesar 20%.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan industri pulp dan kertas merupakan salah satu sektor unggulan yang terus dipacu pengembangannya karena memiliki ketersediaan bahan baku dan pasar domestik yang cukup besar serta didukung dengan penerapan teknologi canggih.

Tag : pulp
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top