INDEF: Ekspor Barang & Jasa RI di Kawasan Intra-Asean Masih Rendah

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai ekspor barang dan jasa Indonesia di kawasan intra-Asean masih rendah. Hal itu disebabkan daya saing produk Indonesia masih berada di bawah negara lain seperti Thailand dan Vietnam.
M. Nurhadi Pratomo | 16 November 2017 18:47 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA — .Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai ekspor barang dan jasa Indonesia di kawasan intra-Asean masih rendah. Hal itu disebabkan daya saing produk Indonesia masih berada di bawah negara lain seperti Thailand dan Vietnam.

Dia mencontohkan perdagangan produk otomotif. Sebagian besar suku cadang komoditas itu berasal dari Thailand.

Kondisi serupa juga terjadi untuk ekspor komoditas tekstil. Saat ini, Vietnam lebih mendominasi perdagangan barang tersebut.

“Kita kalah soal kualitas dan harga. Justru itu, sekarang momentum yang tepat untuk dorong ekspor barang industri ke Asean melalui perbaikan kualitas produk, kapasitas mesin, dan sumber daya manusia,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/11).

Dari sisi ekspor jasa, sambungnya, Indonesia kerap mengalami kendala dalam urusan penguasaan bahasa asing. Dia menyebut Filipina lebih unggul dari segi penguasaan bahasa asing dibandingkan dengan Indonesia.

Bhima meminta kepada pemerintah untuk merevisi ulang aturan ekspor jasa. Salah satunya menyangkut pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk ekspor di sektor tersebut.

Dia menjelaskan Indonesia dapat memanfaatkan beberapa saluran untuk meningkatkan perdagangan barang dan jasa ke negara intra-Asean. Para pengusaha menurutnya dapat menjadikan forum bisnis di tingkat regional sebagi ajang untuk memperluas pasar.

Sementara itu, analisis PwC menemukan bahwa volume ekspor intra kawasan Asean akan segera menembus angka US$375 miliar pada tahun 2025. Kawasan Asean disebut sangat cocok untuk ekspansi ekspor karena kekuatan dan konsistensi pertumbuhan hasil produksi dan besarnya populasi
berusia kerja.

Para ahli ekonomi di PwC tidak mengharapkan adanya keseragaman ekspansi karena beberapa perekonomian ASEAN yang kurang berkembang dan yang lebih terspesialisasi di bidang ekspor jasa akan lebih baik apabila diposisikan untuk meningkatkan volume ekspornya.

PwC memprediksi ekspor jasa dapat menjadi sebuah peluang pada tahun 2016. Namun, Kamboja dan Filipina menjadi satu-satunya negara anggota ASEAN dengan sektor jasa yang menyumbang lebih dari 30% neraca ekspornya secara keseluruhan.

Akan tetapi, sejak tahun 2010, persentase ekspor jasa sebagai proporsi dari total ekspor Asean telah meningkat lima poin menjadi 22%. Selama jangka waktu tersebut, Myanmar (25%) dan Thailand (23%) mengalami peningkatan terbesar dalam ekspor jasa sebagai proporsi dari total ekspor, masing-masing 4% dan 15%. (137)

 

 

 

Tag : asean
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top