Bagi IPC, Patimban Bukan Saingan Priok

Indonesia Port Corporation (IPC) menilai kehadiran Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, tidak akan menyaingi Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.
Rivki Maulana | 15 November 2017 23:05 WIB
Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) menilai kehadiran Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, tidak akan menyaingi Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. IPC menilai Patimban justru melengkapi Priok.

Direktur Teknik & Manajemen Risiko IPC Dani Rusli Utama mengatakan kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok terbatas mesmkipun IPC bakal mengembangkan kapasitas hingga 4,5 juta TEUs di Tahap I New Priok dan 8 juta TEUs di Tahap II.

"Kita harus bicara 10 sampai dengan 20 tahun horizon waktu. Dalam kurun waktu tersebut Pelabuhan Tanjung Priok dalam kondisi maksimum kapasitas," ungkapnya kepada Bisnis.com pada Rabu (15/11/2017).

Sebagaimana diketahui, proyek Pelabuhan Patimbang memasuki tonggak penting setelah perjanjian pinjaman diteken antara Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Untuk tahap pertama, Jepang akan mengucurkan pinjaman senilai 118 miliar yen atau Rp14,2 triliun.

Tahap konstruksi Pelabuhan Patimban bakal dimulai pada awal 2018 dan diharapkan bisa dioperasikan pada 2019. Pembangunan tahap pertama Pelabuhan Patimbang mencakup terminal kendaraan dan terminal kontainer.

Di sisi lain, IPC juga siap mengikut lelang operator Pelabuhan Patimban. IPC bahkan telah menyiapkan alokasi belanja modal sebesar Rp2 triliun untuk memenuhi syarat modal menjadi operator. Dia menuturkan, perseroan bakal menyiapkan sistem, sumber daya manusia, dan kompetensi yang sudah teruji sebagai bekal untuk mengikuti proses tender.

Di Patimban, IPC sebagai badan usaha pelabuhan milik negara berpeluang memiliki porsi 25%. Sementara itu, badan usaha pelabuhan milik swasta memiliki kesempatan untuk menggenggam porsi 26%.

Untuk diketahui, Indonesia memiliki porsi 51% saham di perusahaan yang akan menjadi operator Pelabuhan Patimbang sedangkan sisanya 49% bakal dimiliki perusahaan asal Jepang.

Pembagian porsi saham operator Pelabuhan Patimbang merupakan salah syarat yang diajukan Jepang dalam perjanjian pinjaman untuk mendanai proyek ini.

Syarat lain yang juga mengikat yakni kontraktor pelaksana di mana perusahaan Jepang diharuskan ikut dalam tender konstruksi dengan menggandeng perusahaan asal Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelabuhan patimban

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top