Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menperin Gembira Manufaktur Menggeliat

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut industri manufaktur nasional menggeliat setelah Badan Pusat Statistik melansir pertumbuhan industri nonmigas mencapai 5,49% pada kuartal III/2017 atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,77%.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 November 2017  |  17:17 WIB
Manufaktur - jibi
Manufaktur - jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut industri manufaktur nasional menggeliat setelah Badan Pusat Statistik melansir pertumbuhan industri nonmigas mencapai 5,49% pada kuartal III/2017 atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,77%.

“Ya tentu itu membuktikan bahwa industri itu tumbuh dalam tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi. Kontribusi terhadap ekspor 75%, kontribusi terhadap perpajakan juga terbesar. Ini artinya sektor manufaktur menggeliat,” ujar Airlangga seusai menggelar pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta, Senin (6/11/2017).

Airlangga juga menyebutkan sektor manufaktur juga berkontribusi terhadap ininvestasi sekaligus penyerapan tenaga kerja. Namun demikian, Airlangga mengakui terdapat berbagai hal yang masih perlu dibenahi, mulai dari rantai pasok, pengadaan bahan baku, energi, hingga pemberlakuan tarif yang berkaitan pada perdagangan.

“Pengadaan bahan baku menjadi catatan utama. Kemudian, hampir seluruh industri membutuhkan energi, baik listrik maupun gas. ini juga segera harus kita benahi. Selanjutnya, hampir seluruh industri tergantung perdagangan, di mana perdagangan itu tergantung pada tarif-tarif yang diberlakukan,” ujar Airlangga.

Dalam kesempatannya bertemu Kadin, Airlangga membahas berbagai hal yang mampu yang mampu mendukung industri nasional yang berkelanjutan, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Tentu implementasi dari SNI, karena beberapa industri mengharapkan SNI. Tapi, sebagian lagi menganggap itu tidak wajib. Kalau TKDN ya tergantung pada masing-masing penggunanya. Kemudian juga diangkat mengenai impor LPG yang cukup besar, di mana kita punya kemampuan untuk mengembangkan Dimetil Eter,” ujar Airlangga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

menperin

Sumber : antara

Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top