Penutupan Impor Borongan Dorong Produksi Industri Hulu Tekstil

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen menilai penutupan impor borongan dapat meningkatkan produksi industri hulu tekstil sebanyak 15% pada semester II/2017.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 29 Agustus 2017 14:39 WIB
Ilustrasi industri berbahan baku benang. - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen menilai penutupan impor borongan dapat meningkatkan produksi industri hulu tekstil sebanyak 15% pada semester II/2017.

Redma Gita Wirawasta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI), menyampaikan kenaikan produksi di sektor hulu tekstil tersebut akan memberikan efek domino yang positif kepada industri hilir.

"Ketika impor borongan sudah ditutup industri domestik kembali bergairah, produksi pada awal semester kedua tahun ini mulai naik," kata Redma kepada Bisnis, Selasa (29/8/2017).

Menurutnya, sebagian besar industri kecil dan menengah (IKM) konveksi, rajut, dan tenun telah menyetujui kebijakan penutupan impor borongan tersebut. Walau pada awalnya IKM konveksi lebih menyukai bahan baku impor karena lebih murah, mereka akan beralih membeli bahan baku rajut dan tenun dari lokal.

"Jika pemerintah konsisten dengan penutupan impor borongan maka penjualan industri tekstil secara keseluruhan akan meningkat dibandingkan dengan semester kedua tahun lalu," katanya.

Sebelumnya, APSyFI mencatat setelah dibentuknya satgas penertiban impor berisiko tinggi, penjualan benang filamen meningkat dari akhir Juli sampai awal Agustus sebanyak 30%. Penjualan filamen dalam keadaan normal hanya bisa mencapai 10.000 ton setiap 2 pekan. Dengan adanya kebijakan dari pemerintah tersebut, saat ini produsen hulu tekstil dapat menjual sebanyak 15.000 ton untuk rentang waktu yang sama.

"Beberapa produsen bahan baku dan pabrikan kini dapat kembali meningkatkan produknya," imbuhnya.

Sementara itu, selain impor borongan APSyFI menilai pengawasan di Kawasan Berikat perlu diperkuat untuk mencegah terjadinya rembesan. Menurut perhitungan, tahun ini rembesan dari Kawasan Berikat bisa mencapai 100.000 ton. Produk rembesan itu meliputi kain, pakaian jadi, dan benang.

"Pmerintah juga harus bisa mengatasi impor borongan dari kawasan berikat karena jumlahnya dalam per tahun terhitung banyak," ujarnya.

Dia menambahkan, dalam setahun 100.000 ton rembesan tersebut masuk ke dalam pasar domestik tanpa membayar pajak pertambahan nilai dan bea masuk sehingga merugikan negara dan industri tekstil secara tidak langsung. Hampir sekitar 400 kontainer lolos dari penjagaan pemerintah sehingga harus lebih diawasi.

"Keluar dari kawasan berikat tidak dalam bentuk kontainer tetapi dibawa truk kecil atau mobil box. Jumlah penjaga kawasan berikat yang kurang menjadi faktor utama rembesan tersebut bisa lolos," imbuhnya. 

 

Tag : industri tekstil
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top