Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mesin Pendingin Berkualitas 'Murahan' Masih Dipakai, Keamanan Pangan Terancam

Ketidakpatuhan industri rantai pendingin menerapkan standard nasional Indonesia (SNI) membuat volume pangan menyusut 35%-50% sejak pascapanen hingga sampai di tangan konsumen.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 01 Mei 2017  |  21:53 WIB
Ilustrasi: Cold storage - pwcold.com
Ilustrasi: Cold storage - pwcold.com

Bisnis.com, JAKARTA –  Ketidakpatuhan industri rantai pendingin menerapkan standard nasional Indonesia (SNI) membuat volume pangan menyusut 35%-50% sejak pascapanen hingga sampai di tangan konsumen.

Rantai dingin adalah bagian dari rantai pasok (supply chain)  yang bertujuan untuk menjaga suhu agar produk tetap terjaga selama proses pengumpulan, pengolahan, dan distribusi komoditas hingga ke tangan konsumen.

Menurut Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), masih terdapat produk mesin-mesin pendingin dan produk pendukung lain yang berkualitas 'murahan' dipakai oleh pemakai akhir.

“Ketidaktahuan mereka tentang kualitas mesin dan memilih harga murah menyebabkan sistem keamanan pangan nasional terganggu dan biaya distribusinya menjadi lebih mahal,” kata Ketua Umum ARPI Hasanuddin Yasni dalam siaran pers, Senin (1/5/2017).

Penerapan SNI ini akan sangat membantu membuat sistem rantai pendingin (cold chain system) tepat guna. Sertifikasi profesi teknisi rantai pendingin juga diperlukan dalam perbaikan SNI sebagaimana diusulkan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Di samping itu, sejak pemberlakuan perdagangan bebas Asean-China (ACFTA) yang menerapkan pembebasan pajak impor barang di antara kedua kawasan, persaingan industri cold chain semakin kompetitif. Industri manufaktur lokal membutuhkan insentif pajak dari pemerintah yang berwenang melalui program total kandungan dalam negeri (TKDN).

Walaupun TKDN sudah diterapkan dan dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri nasional, sektor industri cold chain perlu spesifikasi khusus. Menurut Hasanuddin, banyak pelaku industri cold chain ragu mengambil fasilitas TKDN karena cukup memberatkan mengingat 100% mesin-mesin utama, seperti kompresor, kondensor diimpor utuh. Industri lokallah yang kemudian merakitnya menjadi sebuah unit kompak cold storage, pabrik es, show case produk segar di pasar ritel, dan refrigerated box di truk berpendingin.

“Masalah yang ada hendaknya menjadi pertimbangan besaran TKDN sehingga dapat mempercepat penerapannya dan tepat,” ujarnya.

ARPI juga mengemukakan, dalam pertemuan bisnis asosiasi itu dengan delegasi Thailand Land Transportation pekan lalu, muncul gagasan mengoneksikan transportasi negara-negara ASEAN. Sumatra dengan pintu utama Medan berpeluang menghubungkan jalur transportasi darat dari Sumatra, Jawa, hingga ke Bali.

ARPI memandang bisnis reefer truck menjadi sebuah tantangan industri rantai pendingin lokal sebelum dikuasai oleh Thailand. Industri lokal akan bergeliat jika peraturan tentang keamanan pangan selama distribusi diberlakukan dan diawasi ketat. Kompartemen Transportasi ARPI yang diwakili oleh Stephano Putra juga mengemukakan peraturan tersebut hendaknya menjadikan biaya distribusi produk segar lebih efisien dan dilengkapi dengan alat-alat GPS monitoring suhu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rantai pendingin keamanan pangan
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top