PLN Targetkan Pembangkit Coal Slurry Beroperasi 2020

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) menargetkan pembangkit listrik berbasis batubara yang dicairkan (coal slurry) dapat beroperasi pada tahun 2020.
Annisa Lestari Ciptaningtyas | 21 Desember 2016 01:10 WIB
Pembangkit listrik - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA-- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) menargetkan pembangkit listrik berbasis batubara yang dicairkan (coal slurry) dapat beroperasi pada tahun 2020.

Direktorat Jenderal EBTKE melaporkan berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2016 sampai 2025 disebutkan pada tahun 2016 ini direncanakan dilakukan dilakukan proses pengadaan pembangkit dengan bahan bakar coal slurry di sistem kecil tersebar terutama di wilayah Papua sebesar 20 megawatt (MW) dan Maluku sebesar 30 MW.

Coal slurry merupakan batubara yang dicairkan melalui proses upgrading sehingga lebih ramah lingkungan serta lebih mudah ditransportasikan dan disimpan dalam tangki. Prinsip kerja bahan bakar ini digunakan untuk pembangkit termal melalui proses pembakaran dengan mekanisme penyemprotan.

Coal slurry digunakan sebagai pembangkit skala kecil pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) untuk beban dasar. Saat ini telah dikembangkan sebuah pembangkit pilot project dengan kapasitas 750 kilowatt (kW) di Karawang, Jawa Barat yang disimulasikan seperti pembangkit dan kelistrikan kepulauan.

Selain itu, perseroan juga berkeinginan untuk memanfaatkan gas coal bed methane (CBM) apabila telah tersedia dalam jumlah yang cukup terutama di South Sumatera Basin yang diperkirakan memiliki cadangan sebesar 183 triliun cubic feet (TCF), angka ini disinyalir lebih besar dibanding cadangan gas konvensional.

Studi yang telah dilakukan oleh PLN bersama Exxon-Mobil mengenai pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia telah memberikan pemahaman mengenai keekonomian gas CBM ini.

JAKARTA--PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) menargetkan pembangkit listrik berbasis batubara yang dicairkan (coal slurry) dapat beroperasi pada tahun 2020.
Direktorat Jenderal EBTKE melaporkan berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2016 sampai 2025 disebutkan pada tahun 2016 ini direncanakan dilakukan dilakukan proses pengadaan pembangkit dengan bahan bakar coal slurry di sistem kecil tersebar terutama di wilayah Papua sebesar 20 megawatt (MW) dan Maluku sebesar 30 MW.
Coal slurry merupakan batubara yang dicairkan melalui proses upgrading sehingga lebih ramah lingkungan serta lebih mudah ditransportasikan dan disimpan dalam tangki. Prinsip kerja bahan bakar ini digunakan untuk pembangkit termal melalui proses pembakaran dengan mekanisme penyemprotan.
Coal slurry digunakan sebagai pembangkit skala kecil pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) untuk beban dasar. Saat ini telah dikembangkan sebuah pembangkit pilot project dengan kapasitas 750 kilowatt (kW) di Karawang, Jawa Barat yang disimulasikan seperti pembangkit dan kelistrikan kepulauan.
Selain itu, perseroan juga berkeinginan untuk memanfaatkan gas coal bed methane (CBM) apabila telah tersedia dalam jumlah yang cukup terutama di South Sumatera Basin yang diperkirakan memiliki cadangan sebesar 183 triliun cubic feet (TCF), angka ini disinyalir lebih besar dibanding cadangan gas konvensional.
Studi yang telah dilakukan oleh PLN bersama Exxon-Mobil mengenai pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia telah memberikan pemahaman mengenai keekonomian gas CBM ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pln, pembangkit listrik

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top