Industri Manufaktur Jatim Alami Kontraksi, Berikut Rinciannya

Sedikitnya ada 10 sektor industri manufaktur di Jawa Timur yang kinerja pertumbuhannya mengalami kontraksi hingga di atas 5% pada kuartal III/2016 (q to q) terutama industri skala mikro dan kecil
Peni Widarti | 02 November 2016 15:24 WIB
Industri furnitur Jatim tertekan. - .Antara

Bisnis.com, SURABAYA – Sedikitnya ada 10 sektor industri manufaktur di Jawa Timur yang kinerja pertumbuhannya mengalami kontraksi hingga di atas 5% pada kuartal III/2016 (q to q) terutama industri skala mikro dan kecil.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono mengatakan pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil pada kuartal III tahun ini memang turun 0,98% bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Namun untuk industri skala sedang dan besar pada periode yang sama ini masih dapat tumbuh 1,15% (q to q) di tengah belum pulihnya kondisi perekonomian saat ini, seperti alat angkut dan industri percetakan dan reproduksi media rekaman naik 6,4%,” katanya, Rabu (2/11/2016).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, 10 sektor industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami kontraksi atau tumbuh negatif lebih dari 5% yakni industri furnitur turun 7,69%, jasa reparasi pemasangan mesin dan peralatan turun 7,88%, industri kulit atau barang dari kulit dan alas kaki turun 9,61%.

Selain itu juga ada industri kendaraan bermotor 9,85%, barang kimia turun 11,71%, logam dasar turun 12,43%, industri kayu dan gabus 14,33%, pengolahan tembakau atau rokok turun 14,44%, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 17,41%, dan industri mesin dan perlengkapannya turun 20,66%.

Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur, Winyoto Gunawan mengakui jika produksi sepatu atau alas kaki di Jatim turun sampai 35%. Penjualan di pasar ekspor pun menjadi turun 20% dan di pasar domestik turun 35%.

“Memang pemerintah sedang berupaya memperbaiki kondisi perekonomian kita melalui berbagai paket kebijakan bahkan ada program tax amnesty, tetapi usaha tersebut belum terlalu dirasakan dampaknya,” katanya.

Setiap sektor usaha, katanya, memiliki kendala yang berbeda-beda. Sehingga paket-paket kebijakan mungkin sudah bisa dirasakan oleh sektor-sektor lain. Sementara sektor usaha alas kaki merupakan industri padat karya dengan banyak karyawan.

Saat ini, industri sepatu di Jatim merasa masih terbebani oleh upah pekerja yang terlalu tinggi sehingga biaya produksi pun menjadi lebih tinggi dan mengakibatkan daya saingnya kalah dengan produk sepatu asing seperti dari Vietnam.

Kondisi serupa juga dialami 400 industri rokok di Jatim yang produksinya tahun ini menurun 7% untuk rokok sigaret kretek mesin (SKM) dan turun 10% untuk rokok sigaret kretek tangan (SKT).

“Salah satu penyebab turunnya produksi tahun ini adalah cuaca tidak menentu dan intensitas hujan yang tinggi sehingga produksi tembakau turun,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia (Gapero) Surabaya, Sulami Bahar.

Tag : manufaktur
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top