Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PLTU Bengkulu Beroperasi 2019

Pembangkit Listrik Tenaga Uap Bengkulu yang berada di sekitar Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu berkapasitas 2x100 mega watt ditarget beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2019.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 25 Oktober 2016  |  20:00 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, BENGKULU--Pembangkit Listrik Tenaga Uap Bengkulu yang berada di sekitar Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu berkapasitas 2x100 mega watt ditarget beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2019.

Kegiatan konstruksi dimulai dengan acara peletakan batu pertama yang dihadiri Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Pelindo II Saptono Irianto, Presiden Direktur PT Intraco Penta, Tbk, Halex Halim, Chairman PowerChina, Yan Ziyong, dan perwakilan dari Sinohydro sebagai kontraktor.

Komisaris Utama PT Tenaga Listrik Bengkulu Petrus Halim mengatakan konstruksi pembangkit listrik akan memakan waktu selama 36 bulan.

Menurutnya, pembangunan pembangkit listrik bisa lebih cepat karena pihaknya tak perlu melakukan pembebasan lahan. Lahan seluas 50 hektare yang digunakan, katanya, merupakan milik PT Pelindo II.

Dia menuturkan proyek tersebut merupakan pembangkit listrik kedua yang dibangun setelah PLTU Batam berkapasitas 2x65 MW.
Adapun, pembangunan proyek sebelumnya membutuhkan waktu tujuh tahun yakni proyek dimulai pada 2005 dan baru beroperasi pada 2012 karena kendala perizinan dan lahan.

Pada proyek kali ini, pihaknya optimistis konstruksi bisa diselesaikan tepat waktu, sehingga pada November 2019 listrik dari pembangkit tersebut mulai terdistribusi kendati pembangunan pembangkit sempat menghadapi penentangan dari masyarakat setempat.

"Ditargetkan mulai COD November 2019," ujarnya saat acara peletakan batu pertama di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, Selasa (25/10).

Proyek tersebut dimiliki oleh perusahaan patungan yang 70% saham di antaranya dimiliki PowerChina dan 30% dikuasai PT Intraco Penta, Tbk melalui anak usahanya PT Inta Daya Perkasa. Proyek bernilai US$360 juta itu mendapat pinjaman dari Exim Bank China dan ICBC senilai US$270 juta yang akan dikerjakan oleh Sinohydro, perusahaan asal China.

Sebagai bahan baku, katanya, PLTU akan menggunakan batubara yang dipasok dari usaha pertambangan yang berada di Bengkulu. Volume batubara yang dibutuhkan, katanya, 900.000 ton hingga 1 juta ton setahun.

"[Pinjaman dari] China Exim Bank dan ICBC. Nilai loan US$270 juta. [Dana] sendiri US$90 juta," katanya.

Dia pun menyebut masih tertarik untuk mengembangkan pembangkit listrik. Oleh karena itu, pihaknya menanti lelang proyek berikutnya dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Petrus pun tak menutup peluang untuk terlibat dalam proyek pembangkit yang menggunakan energi lainnya seperti gas bahkan energi baru dan terbarukan (EBT).

"Kami bisa invest di EBT, gas. Kami lihat peluang saja."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pltu bengkulu
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top