Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Klaster Padi Subak Pulagan Hasilkan Panen 9,19 Ton per Hektar

Sawah di klaster padi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali yang berada di Subak Pulagan, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar yang bekerjasama dengan Pemkab Gianyar, Jajaran Dandim, dan Polsek Gianyar berhasil memanen 9,19 ton padi per hektar pada panen tahap II.
Natalia Indah Kartikaningrum
Natalia Indah Kartikaningrum - Bisnis.com 13 Mei 2016  |  19:10 WIB
Panen padi perdana, Selasa (27/10/2015) di lahan seluas 10,07 Ha di Subak Pulagan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. - Bisnis.com/Feri Kristianto
Panen padi perdana, Selasa (27/10/2015) di lahan seluas 10,07 Ha di Subak Pulagan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. - Bisnis.com/Feri Kristianto

Bisnis.com, DENPASAR - Sawah di klaster padi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali yang berada di Subak Pulagan, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar yang bekerjasama dengan Pemkab Gianyar, Jajaran Dandim, dan Polsek Gianyar berhasil memanen 9,19 ton padi per hektar pada panen tahap II.

Dewi Setyowati, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, mengatakan panen tahap II ini mengalami peningkatan dari panen tahap I yang rata-rata dihasilkan sebesar 8,7 ton per hektar.

“Pada awalnya, rata-rata panen yang dihasilkan petani sebelum kami bina hanya mencapai 5,4 ton per hektar. Dengan peningkatan ini membuktikan bahwa penanaman padi tanpa penggunaan obat-obat kimia dapat menghasilkan peningkatan produksi,” ujarnya di Denpasar, Jumat (13/5/2016).

Selain itu, lanjutnya, saat ini petani telah merasakan biaya yang dikeluarkan untuk menanam padi semakin berkurang karena petani sendiri telah membuat pupuk organik baik pupuk padat maupun pupuk cair, serta pestisida nabati dengan bantuan teknologi Micro bacter Alfafa (MA-11).

“Dalam pengembangan program ketahanan pangan di Bali tahun 2016, kami membuat 13 demplot dan klaster yang tersebar di 6 kabupaten. Komoditi yang dikembangkan adalah kopi, bawang merah, cabe merah, padi, dan pengembangan Sapi Bali. Di mana pola yang dilakukan seluruhnya mengarah ke pertanian organik dengan pola budi daya yang dilakukan secara berkelanjutan,” paparnya.

Dia menambahkan, dengan pengembangan sektor komoditi pangan yang mempengaruhi inflasi diharapkan hasilnya dapat mendukung ketersediaan komoditi pangan di Bali serta menekan gejolak volatile food sebagai pemicu inflasi.

“Tidak hanya sektor pertanian yang dikembangkan, untuk daerah perkotaan kami juga telah mengembangkan sistem pertanian di lahan sempit atau urban farming yang telah menyasar 3 kabupaten di Bali dengan melibatkan ibu-ibu PKK yang ada, serta para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Gianyar,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa pihaknya yakin bahwa beberapa klaster dan demplot yang ada saat ini akan menjadi titik awal kembalinya kejayaan pangan di Bali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

padi Subak Bali
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top