Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MAINAN ANAK: Bisnis Kerajinan Rumah Boneka Mulai Dilirik

Kerajinan doll house atau rumah boneka buatan lokal mulai mendapatkan tempat di sebagian kecil masyarakat.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 25 November 2015  |  13:45 WIB
MAINAN ANAK: Bisnis Kerajinan Rumah Boneka Mulai Dilirik
Kerajinan doll house atau rumah boneka buatan lokal mulai mendapatkan tempat di sebagian kecil masyarakat. - Bisnis/Feri Kristianto
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR - Kerajinan doll house atau rumah boneka buatan lokal mulai mendapatkan tempat di sebagian kecil masyarakat.

Rosada Thalib, pemilik usaha Rosada Doll House and Kids Interior di Seminyak, Bali, menuturkan sejak beberapa tahun belakangan jumlah permintaan rumah boneka meningkat.

‎"Rerata sekitar 35 doll house per bulan itu ritel, kalau pesanan itu bisa 25 unit," jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (24/11/2015).

Rumah boneka merupakan kerajinan berbahan dasar kayu yang dibuat mirip seperti rumah. Di dalam rumah-rumahan tersebut dapat diisi furnitur dan boneka sehingga terkesan seperti rumah asli.

Mainan yang sudah menjamur di Eropa ini bertujuan melatih imajinasi anak-anak dalam bermain boneka. Rosada menuturkan permintaan jenis permainan ini paling banyak dari pasar luar negeri, khususnya Australia.

Sementara itu untuk pasar dalam negeri, kebanyakan adalah warga Bandung dan Jakarta, serta ekspatriat di Bali.

"Di Eropa doll house sudah biasa. Nah, kalau di sini belum familiar, tetapi untuk di daerah Kuta dan Canggu banyak ekspatriat, mereka suka sekali‎," urainya.

Dia menuturkan untuk satu unit rumah boneka hasil produksinya dijual bervariasi, ‎mulai dari Rp1 juta-Rp7 juta per unit, sedangkan furniturenya seharga Rp30.000 per jenis-Rp450.000.

Bahan baku yang digunakan dari plywood, sedangkan cat menggunakan bahan tanpa racun, serta furniture menggunakan kayu limbah.‎

Adapun pembeli permainan ini, untuk sementara 75% merupakan orang asing, sisanya lokal. Dia mengklaim pelanggannya menyukai hasil karyanya, karena buatan tangan dan tidak banyak stiker.

Untuk menggenjot permintaan dari lokal, pihaknya berencana mengikuti pameran-pameran di dalam negeri. Menurutnya, potensi bisnis ini sangat menjanjikan, karena jumlah pemain masih sedikit dan ‎belum banyak yang mengenal jenis mainan ini.

Selain itu, permainan ini membutuhkan furniture yang biasanya harganya dibandrol dua kali lipat dari rumah boneka.‎ Adapun untuk tantangan yang dihadapi dalam bisnis ini adalah produk sejenis dari China yang harganya lebih murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mainan Anak-anak rumah boneka
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top