Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pergerakan Penerbangan di Bandara Soeta Diturunkan

Pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Perhubungan akan menurunkan pergerakan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng menjadi 60 penerbangan per jam dari yang saat ini 72 penerbangan per jam.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 19 Oktober 2015  |  19:51 WIB
Pergerakan Penerbangan di Bandara Soeta Diturunkan
Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. - antara

Bisnis.com, JAKARTA --- Pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Perhubungan akan menurunkan pergerakan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng menjadi 60 penerbangan per jam dari yang saat ini 72 penerbangan per jam.

Kepala Seksi Pelayanan Lalu Lintas Penerbangan Kementerian Perhubungan Ferdinand Nurdin di sela-sela Seminar Nasional Pendidikan Penerbangan di Jakarta, Senin (19/10/2015) mengatakan wacana tersebut untuk mengefektifkan pergerakan penerbangan di malam hari.

"Kondisi 'traffic' (lalu lintas udara) ini pergerakannya sekarang 72 per jam akan kita turunkan menjadi 60, tapi merata ke seluruh jamnya," katanya.

Ferdinand mengatakan penurunan frekuensi penerbangan juga atas pertimbangan banyaknya beban pemandu lalu lintas udara atau ATC yang saat ini masih kekurangan sumber daya manusia (SDM).

Menurut dia, dengan diturunkan menjadi 60, maka perhitungan petugas, baik "controller", asisten, "ground controller", maupun supervisor sesuai.

"Dengan aturan kami, perhitungan SDM ini ideal, baik untuk operasional persinal yang langsung menberikan pelayanan mauoun supervisor yang mengawasi operasional," katanya.

Terkait rencana Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav Indonesia) yang akan meningkatkan frekuensi pergerakan penerbangan menjadi 86 pergerakan per jam, Ferdinand menilai hal itu perlu didukung infrastruktur yang memadai serta SDM yang mumpuni.

"Ada beberapa langkah yang harus dipenuhi, contohnya fasilitas bandara, baik itu apron, terminal tidak seperti membalikan kedua telapak tangan," katanya.

Untuk menyesuaikan dengan bandara tujuan, dia mengatakan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub akan mengeluarkan Peraturan Dirjen terkait jam operasional bandara untuk mendukung operasional yang ada di Bandara Soetta.

Ferdinand mengaku pihaknya sudah berdiskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan terkait perubahan pergerakan penerbangan tersebut.

"Kita ajan mengatur, perlu adanya kesepakatan komitmen bersama antara operator penerbangan dan iperator pengelenggara bandar udara," katanya.

Dia mengatakan setidaknya akhir 2015 peraturan tersebut sudah bisa diterapkan.

Ditemui di tempat berbeda, Senior Manager ATFM itu Air Traffic Flow Management dan Air Traffic Services LPPNPI/ Airnav Indonesia Endaryono mengatakan memang saat ini kapasitas penerbangan belum merata hingga 24 jam.

"Seperti Jakarta itu ketika malam banyak yang belum terisi kapasitasnya, tetapi apapun itu ini masih dalam kajian," katanya.

Terkait beban ATC yang dinilai tinggi, Endaryono menjelaskan sudah ada standar operasional (SOP) untuk ATC, jadi tidak melebihi kapasitasnya.

"Jadi, ketika itu akan melebihi akan kita pecah ke beberapa sektor baru lagi," katanya.

Menurut dia, saat ini dengan 72 pergerakan per jam masih dinilai normal, sama seperti di bandara-bandara sibuk lainnya, yang terpenting masih sesuai dengan SOP masing-masing bandara.

Selain itu, lanjut dia, tidak keluar dari aturan atau standar internasional dalam hal ini Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

"Misal di Heathrow, Inggris kondisi runway, taxiway mirip di Bandara Soetta, di sana itu bisa 80-90 pergerakan per jam, kita lihat SOP nya seperti apa, sehingga jarak antarpesawat apakah itu sudah sesuai," katanya.

Di sisi lain, Vice President Corporate Communications PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) Benny S Butarbutar menilai pemangkasan pergerakan pesawat berdampak pada pemindahan jadwal yang akan mengganggu bisnis maskapai penerbangan.

"Kemenhub harus punya skema dulu seperti apa pemindahan jadwal penerbangan, yang berdampak ke bandara-bandara lainnya," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bandara soeta

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top