Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permendag Baru Soal Ekspor Timah Bisa Perlambat Kerusakan Lingkungan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan optimistis Permendag No. 33/MDag/PER/5/2015 tentang Ketentuan Ekspor Timah mampu perlambat dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang bijih timah.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 23 Mei 2015  |  04:57 WIB
Produk timah - Ilustrasi
Produk timah - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan optimistis Peraturan Menteri Perdagangan No. 33/MDag/PER/5/2015 tentang Ketentuan Ekspor Timah mampu perlambat dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang bijih timah.

Belum lama ini, pemerintah menerbitkan Permendag yang merupakan revisi dari aturan sebelumnya yakni Permendag No. 44/M-Dag/PER/7/2014 tentang Ketentuan Ekspor Timah. Beleid ini akan berlaku mulai Agustus 2015.

Deputi II Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M. R. Karliansyah mengatakan dengan aturan baru penambang harus jelas pemiliknya. Dengan kejelasan terebut, berarti dokumen dan prasyaratnya dipenuhi.

“Sekarang lebih ketat lagi aturannya, jadi harapannya dapat memperlambat dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan liar. Kalau penambangnya jelas, rencana reklamasinya juga pasti ada,” tuturnya kepada Bisnis.com, Jumat (22/5/2015).

Dalam kajian Kementerian LH dan Kehutanan 2013 silam, dari sembilan kabupaten/kota yang dievaluasi hanya ada satu dampak ekonomi yang surplus dari penambangan rakyat yang ada. Sementara itu, untuk kajian di Pulau Bangka pada 2005, dipandang dari aspek lingkungan, hasilnya negatif.

Karliansyah mengatakan pemerintah daerah semestinya memiliki perencanaan mengenai pascatambang, terkait reklamasi maupun pemulihan lahan. “Sekarang penambang harus bisa menunjukkan rencana reklamasinya mau kemana,” ujarnya.

Saat ini, Indonesia masih menjadi produsen bijih timah terbesar di dunia, yang berkontribusi sepertiga dari kebutuhan global. Pada 2012, produksi bijih timah sebesar 99.600 ton, sementara China mengikuti dengan produksi 85.245 ton.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor timah
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top