Fuhai Bidik Smelter Tembaga di Indonesia

Perusahaan asal China, Fuhai Group Limited dikabarkan juga tertarik untuk berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga katoda di Indonesia.
Lukas Hendra TM | 17 Maret 2015 13:45 WIB
Perusahaan asal China, Fuhai Group Limited dikabarkan juga tertarik untuk berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga katoda di Indonesia. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan asal China, Fuhai Group Limited dikabarkan juga tertarik untuk berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga katoda di Indonesia.

Saat ini, perusahaan tengah mengembangkan smelter besi wantah atau pig iron dari konsentrat pasir besi melalui PT Megatop Inti Selaras.
Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R. Sukhyar mengungkapkan perusahaan asal China itu pada dasarnya tertarik untuk mengembangkan baja dan kawasan industri di Jambi.
"Mereka juga tertarik mengembangkan smelter tembaga katoda, nikel, dan alumina," ujarnya, Selasa (17/3/2015).
Ketertarikan itu diungkapkan perusahaan saat pihaknya berkunjung pada akhir pekan lalu di fasilitas produksi perusahaan di negeri Tirai Bambu.
Selain smelter tembaga katoda, lanjutnya, perusahaan juga ingin mengembangkan refinery alumina di Indonesia. "Khusus untuk alumina, manajemennya sudah berpengalaman," ujarnya.
Bisnis mencatat, smelter besi wantah atau pig iron dari konsentrat pasir besi milik PT Megatop Inti Selaras bakal beroperasi pada akhir 2016.
Proyek itu berlokasi di Cianjur, Jawa Barat yang konstruksinya telah dimulai sejak Januari 2013. Sekedar informasi, PT Megatop Inti Selaras merupakan bagian dari perusahaan asal China, Fuhai Group Limited.
Dalam dokumen pertemuan antara Menteri ESDM dengan pimpinan Fuhai Group menyebutkan Megatop Inti Selaras menggelontorkan investasi untuk smelter itu sebesar US$200 juta dengan biaya modal (capital expenditure/capex) sebesar US$73 juta.
Smelter itu membutuhkan tenaga listrik sebesar 15 megawatt yang akan diperoleh dari generator. Kini, kegiatan konstruksi yang tengah berlangsung meliputi pengadaan, konstruksi, instalasi, pabrik pra-pemrosesan, bengkel produksi proses utama, bengkel produksi proses tambahan dan fasilitas pabrik.
Perusahaan akan menggunakan teknologi reduksi langsung (HiSmelt) yaitu teknologi reduksi yang telah mempunyai hak paten atas kemampuannya untuk memisahkan titanium dari pasir besi pada tungku peleburan.
Kuota Ekspor
Smelter itu direncanakan memiliki kapasitas sebesar 500.000 ton pig iron dengan memanfaatkan konsentrat pasir besi milik perusahaan sebesar 960.000 ton konsentrat.
Sukhyar menambahkan, dengan kapasitas input sejumlah itu, maka pada 2015 perusahaan memperoleh kuota ekspor konsentrat sebesar 960.000 ton.
Namun, perusahaan masih harus menunggu selesainya revisi Permen ESDM No.1/2014 terkait pencatuman kode HS pasir besi sama dengan kode HS besi.
"Kecuali kalau perusahaan mau bayar mahal ya bisa saja ekspor duluan [sebelum revisi selesai]," katanya.
Sebagai ilustrasi, dalam data Kementerian Perdagangan pada April 2014, harga patokan ekspor (HPE) konsentrat pasir besi (ilmenit) dengan kadar di atas 58% dihargai US$280 per ton, sedangkan harga konsentrat besi (laterit) dengan kadar 51%-61% hanya dihargai US$16,48 per ton hingga US$58,15 per to

Tag : smelter
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top