Petani Bawang Cirebon Diimbau Maksimalkan Fungsi Cold Storage

Dewan Bawang Nasional (Debanas) mengajak kalangan petani bawang merah di Kabupaten Cirebon Jawa Barat memaksimalkan fungsi cold storage untuk penyimpanan hasil produksi agar stok tetap terjaga.
Adi Ginanjar Maulana, Maman Abdurahman | 02 Maret 2015 16:23 WIB

Bisnis.com, CIREBON—Dewan Bawang Nasional (Debanas) mengajak kalangan petani bawang merah di Kabupaten Cirebon Jawa Barat memaksimalkan fungsi cold storage untuk penyimpanan hasil produksi agar stok tetap terjaga.

Kabupaten Cirebon hingga saat ini memiliki dua unit cold storage dengan kapasitas penyimpanan mencapai 1.000 ton yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian pada 2013 dengan kapasitas 500 ton dan cold storage milik swasta 500 ton.

Sekjen Debanas Mudatsir mengatakan dalam pengoperasian cold storage di Kabupaten Cirebon yang dikelola koperasi setempat, masih terkendala kurangnya minat petani untuk menyimpan stok produksi bawang merah karena mereka lebih suka menjual langsung seluruh hasil produksi saat panen raya.

Dia menuturkan, alasan karena memiliki utang yang harus segera dilunasi membuat petani kurang minat menyimpan hasil produksi bawang merah. Padahal, dengan menyimpan sebagian hasil panen bakal membuat harga lebih stabil di pasaran.

“Petani mau menyimpan bawang merah di cold storage akan tetapi mereka minta pihak koperasi memberikan talangan dana,” katanya kepada Bisnis, Senin (2/3/2015).

Mudatsir mengungkapkan untuk mengoperasikan cold storage dengan kapasitas 500 ton diperlukan tenaga listrik sekitar 132.000 watt atau biaya Rp8 juta setiap bulannya, sementara baru petani tertentu yang mau menyimpan hasil produksinya di cold storage.

“Rencananya akan ada komoditi lain yang bakal disimpan di cold storage misalnya jagung manis kualitas ekspor saat petani tidak panen bawang merah,” ujarnya.

Mudatsir menambahkan menyimpan bawang merah di cold storage lebih bagus dibanding harus menyimpan di gudang biasa yang tingkat susutnya mencapai 30% selama 2 bulan, sedangkan dengan cold storage tingkat susutnya hanya 5%-7% selama 2 bulan.

Selain itu, luas tanam areal pertanian bawang merah di Kabupaten Cirebon bertambah sekitar 1.000 hektare dari luas tanam yang ada sebelumnya sekitar 3.500 ha.

Bertambahnya luas tanam bawang merah di Kabupaten Cirebon mengikuti tren penambahan luas panen produksi nasional mulai 2014-2015 sekitar 10.000-15.00 ha yang memberikan dampak stabilnya harga di pasaran.

Dia mengatakan sepanjang Januari-Februari 2015 harga bawang merah di pasaran berada di kisaran Rp15.000/kg karena rentang waktu itu kebanyakan petani mulai panen raya.

Dia menuturkan kenaikan harga bawang merah diperkirakan bakal terjadi bulan ini [Maret 2015] hingga bulan depan karena panen bawang merah di Kabupaten Cirebon bakal kembali terjadi pada April 2015.

“Bertambahnya luas tanam bawang merah jelas bakal berpengaruh terhadap ketersediaan stok dan harga di pasaran,” katanya.

Mudatsir mengungkapkan kalangan petani berharap pemerintah tidak selalu merespons gejolak harga bawang merah dengan buru-buru mengeluarkan kebijakan impor yang akhirnya bakal merugikan kalangan importir dan petani bawang merah.

“Jika kebijakan impor dikeluarkan saat harga bergejolak biasanya realisasi impor terjadi saat petani panen raya,” ujarnya.

Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pertanian dan Tananaman Pangan Jawa Barat Obas Firmansyah mengatakan untuk menstabilkan harga bawang merah terutama di tingkat petani, tentunya harus ada upaya pascapanen.

“Upaya pascapanen ini selalu diabaikan yang akhirnya selalu ada importasi, sehingga merugikan petani,” katanya.

Menurutnya, upaya pascapanen itu berupa sistem penyimpanan dan pengolahan seperti resi gudang guna menstabilkan pendapatan petani di kala terjadi surplus.

"Dengan sistem tersebut harga bawang ketika panen mampu dikendalikan, karena disimpan dalam gudang dan dikeluarkan sewaktu harga stabil," ujarnya.

Tag : bawang merah
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top