Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis MRO: Indonesia Kekurangan Tenaga Perawatan Pesawat

Saat ini jumlah teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat di Indonesia diperkirakan berada di bawah 3.000 orang. Padahal, industri perawatan pesawat untuk lima tahun ke depan membutuhkan 6.000 teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 30 April 2014  |  22:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Jumlah teknisi perawatan pesawat di Indonesia masih minim sehingga pemerintah diharapkan mampung mendorong pertumbuhan institusi pendidikan yang mampu mencetak tenaga ahli perawat pesawat seiring berkembangnya industri penerbangan.

Presiden Indonesia Aircraft Maintanance Shop Association (IAMSA) Richard Budihadianto mengatakan saat ini jumlah teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat di Indonesia diperkirakan berada di bawah 3.000 orang. Padahal, industri perawatan pesawat untuk lima tahun ke depan membutuhkan 6.000 teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat.

“Perhitungan itu dengan asumsi kapasitas MRO [Maintenance Repair Overhaul] nasional ditingkatkan dari 30%-40% menjadi 50%-60%,” katanya,  Rabu (30/4/2014).

Dia mengatakan potensi peningkatan pasar perawatan di Indonesia sangat besar karena pertumbuhan bisnis penerbangan rata-rata mencapai 20% per tahun.

Karena itu, menurut Richard, diperlukan terobosan pemerintah dan pelaku industri MRO dalam upaya memenuhi kebutuhan teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat.

“Institusi pendidikan yang ada sekarang hanya mampu menghasilkan maksimal 600 orang tenaga ahli per tahun,” tambahnya.

Menurut Richard, perkembangan industri MRO di Indonesia tidak lepas dari bisnis penerbangan nasional yang tumbuh positif.

Selain itu, terjadi migrasi pekerjaan perawatan untuk airframe dari Amerika Utara dan Eropa ke kawasan Asia Pasifik.

Dua kawasan itu, lanjut Richard, fokus menggarap industri berteknologi tinggi dan padat modal sehingga pekerjaan airframe beralih ke kawasan Asia Pasifik dan Amerika Selatan.

“Selain itu jumlah pesawat yang beroperasi di Asia Pasifik terus bertambah,” imbuhnya.

Richard mengutip laporan ICF SH & E yang menyebutkan jumlah pesawat yang beroperasi akan mencapai 35.600 unit pada 2022. Sebanyak 29% di antaranya dimiliki maskapai dari Asia Pasifik.

Karena itu, tidak mengherankan jika pasar perawatan pesawat di Asia Pasifik menjadi yang terbesar di dunia dengan nilai US$25 miliar pada 2022.

Pertumbuhan bisnis aviasi dan perawatan pesawat di Asia Pasifik sejalan dengan pertumbuhan di Indonesia.

Dalam catatan Indonesia National Air Carrier Association (INACA) hingga 2013, total pesawat yang dioperasikan  maskapai domestik mencapai 754 unit, termasuk pesawat carter.

Jumlah itu, menurut Richard, diperkirakan meningkat pesat pada 2017 menjadi 1.000 armada. Karena itu, imbuhnya, pasar perawatan nasional juga meningkat drastis dari US$1,1 miliar pada 2013 menjadi US$2 miliar pada 2017.

Selain kelangkaan teknisi, industri MRO menurutnya juga membutuhkan kawasan terpadu atau Aerospace Park untuk mendorong sinergi antarorganisasi MRO.

Keberadaan kawasan itu diharapkan dapat mendukung maskapai domestik dalam hal keselamatan penerbangan, ketepatan waktu dan biaya perawatan.

Selain itu aerospace pun menurutnya memberikan kemudahan akses mendapatkan pasokan suku cadang dan membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya saing MRO nasional.

Saat ini dari 67 RMO yang terdaftar di Kemenhub, 29 di antaranya adalah anggota IAMSA yang banyak tersebar di Jakarta, Bandung, Malang dan Surabaya.

Menteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan mengatakan pihaknya sepenuhnya memahami pentingnya industri MRO di Tanah Air.

Karena itu, lanjutnya, Kemenhub akan berusaha mendorong pertumbuhan sekolah teknisi pesawat agar bisa disalurkan pada industri MRO. “Percayakan kepada pemerintah karena ini demi kemajuan bangsa,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dirgantara indonesia perawatan pesawat
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top