Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Tekstil: Lay Off Tak Bisa Dihindari

Pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memastikan akan ada lay off (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran tahun ini sebagai dampak kenaikan tarif tenaga listrik untuk pelanggan golongan industri yang mulai berlaku 1 Mei 2014.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 23 April 2014  |  16:47 WIB

Bisnis.com,  JAKARTA- Pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memastikan akan ada lay off (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran tahun ini sebagai dampak kenaikan tarif tenaga listrik untuk pelanggan golongan industri yang mulai berlaku 1 Mei 2014.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan struktur energi atau listrik berkontribusi sekitar 20%-35% dalam kegiatan produksi industri tekstil, terutama pada sisi hulu.

Menurutnya, dengan kenaikan tarif listrik sekitar 38,9% hingga 64,7% dipastikan akan ada kenaikan biaya produksi hingga 15%.

Dengan begitu, kami jamin pasti ada lay off. Tidak mungkin tidak, tidak bisa. Kalau pemerintah bilang hindari lay off, memang ini perusahaan milik pemerintah, kan kami yang menanggung,” jelas Ade usai pembukaan Pameran IndoIntertex-Inatex-IndoDychem 2014 di Jakarta, Rabu (23/4/2014).

Dia menilai, kenaikan tarif listrik yang berlaku Mei dan dicicil setiap dua bulan dalam satu tahun merupakan keputusan yang absurd. Bagaimana tidak, pemerintah menyatakan ingin meningkatkan daya saing, tetapi kebijakan yang diambil pemerintah justru akan menurunkan daya saing.

Adapun saat ini, ada sekitar 1.200 industri tekstil dan produk tekstil di dalam negeri dengan tenaga kerja sekitar 1,5 juta tenaga kerja.

“Ada banyak tenaga kerja yang saat ini sedang terancam dalam waktu dekat. Industri hulu tekstil akan lebih dulu kena (lay off), seperti industri benang, poliester, dan juga kain. Soalnya kan mereka paling banyak menggunakan listrik.”

Selain itu, impor besar-besaran juga akan masuk ke Indonesia. Pasalnya, tidak ada kenaikan dari harga impor sehingga pelaku usaha lebih memilih melakukan impor dibandingkan melakukan produksi.

Bila saat ini impor tekstil di dalam pasar dalam negeri mencapai 75%. Dengan adanya kenaikan tarif listrik ini impor akan lebih besar lagi, bahkan bisa mencapai 100%.

Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Ramon Bangun mengatakan dampak kenaikan tarif listrik pada industri hulu tekstil memang cenderung pada lay off.

Namun, untuk industri hilir, lebih kepada kenaikan harga. Pasalnya, kenaikan listrik akan menaikkan harga bahan baku di dalam negeri.

Kemudian, eskpor benang (hulu) akan turun drastis, ditambah lagi bahan baku serat seperti poliester juga akan naik harganya karena poliester diproduksi di dalam negeri, tentu kan jadi naik harganya karena listrik naik. Daya saing Indonesia berkurang,” ujar Ramon.

Dengan kata lain, kenaikan tarif listrik ini mengakibatkan kenaikan harga bahan baku bila dibeli di dalam negeri. Hal ini tentunya membuat orang lebih cenderung impor. Sedangkan untuk ekspor, hanya terganggu sedikit.

“Tadinya kami menargetkan pertumbuhan industri ini bisa tumbuh 6%-7% tahun ini, tetapi belum dihitung dengan kenaikan tarif listrik, tidak tahu jadi berapa,” katanya.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tekstil
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top