Pasar Galangan Kapal Nasional Terancam, Kok Bisa?

Adanya perkembangan kualitas hidup masyarakat yang membaik, semakin meyakinkan peluang bagi pelaku industri galangan kapal nasional, salah satunya PT Steadfast Marine. Namun hal itu membutuhkan dukungan regulasi pemerintah.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 27 Februari 2014  |  18:52 WIB
Pasar Galangan Kapal Nasional Terancam, Kok Bisa?
Galangan kapal - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA- Adanya perkembangan kualitas hidup masyarakat yang membaik, semakin meyakinkan peluang bagi pelaku industri galangan kapal nasional, salah satunya PT Steadfast Marine. Namun hal itu membutuhkan dukungan regulasi pemerintah.

Head Office Steadfast Marine Eddy Kurniawan Logam mengatakan ceruk pasar bagi industri galangan kapal nasional sebenarnya tak pernah menyusut, bahkan kian menjanjikan dengan adanya kesadaran masyarakat pengguna transportasi yang aman dan nyaman.

Pada dasarnya, keyakinan perusahaan itu tak terlepas pula dari hakikat geografis Indonesia sebagai negara maritim. "Karena itu, sebenarnya pasar kapal dapat membesar dan maju," katanya kepada Bisnis, Kamis (27/2/2014).

Hingga saat ini, Steadfast Marine yang telah berdiri sejak 2005, telah memiliki pangsa operator lokal. Sedikitnya ada empat operator lokal yang mempercayakan armada lautnya kepada Steadfast Marine.

Steadfast Marine telah menggandeng Damen Shipyard Belanda, pemain galangan kapal internasional terbesar. Dari kerjasama tersebut, industri galangan kapal yang berbasis di Pontianak, Kalimantan Barat itu, telah memproduksi 7 kapal.

"Secara keseluruhan, perusahaan telah memproduksi lebih dari 50 buah kapal, semuanya merupakan kapal jenis penunjang kegiatan industri oil dan gas," terang Eddy.

Hingga saat ini, perusahaan inipun telah menjual produksi sampai negara-negara Timur Tengah. "Itu kerjasama dengan Damen [Shipyard]," katanya. Untuk daya saing galangan kapal nasional, terang Eddy, tidak kalah dengan negara Asia lainnya. Bahkan, negara-negara seperti Maladewa dan Papua Nugini, memakai buatan galangan kapal nasional.

Di sisi lain, justru, menurut Chairman Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia itu, pangsa yang menyempit ada di dalam negeri. Negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura, terlebih Vietnam terus mengincar permintaan kebutuhan kapal nasional.

Negara-negara itupun yang kelak tergabung bersama Indonesia ke dalam Asean Economic Community (AEC) 2015, memiliki langkah kebijakan yang maju dalam mengembangkan industri galangan kapal. "Ya kita jadi kalah dengan mereka," ujar Eddy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
galangan kapal

Editor : Fatkhul-nonaktif

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top