Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KEN: Transformasi Ekonomi Mendesak

Komite Ekonomi Nasional mendesak pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi yang didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang inovatif guna mencegah stagnansi ekonomi Indonesia.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 12 Februari 2014  |  22:20 WIB
KEN: Transformasi Ekonomi Mendesak
Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Komite Ekonomi Nasional mendesak pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi yang didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang inovatif guna mencegah stagnansi ekonomi Indonesia.

Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengemukakan sistem ekonomi Indonesia yang berbasis buruh murah dan sumber daya alam (SDA) perlu diarahkan menuju sistem ekonomi yang mengandalkan SDM unggul.

“Beberapa negara terbukti ‘jatuh’ akibat anjolknya harga komoditas dan merebaknya unjuk rasa buruh yang menuntut upah minimal regional [UMR]. Fakta itu sudah menunjukkan bahwa kita harus beranjak dari sistem yang lama,”ungkapnya pada orasi ilmiah Ekonomi dan Pengembangan SDM Indonesia di Universitas Negeri Jakarta, Rabu (12/2/2013).

Tidak hanya itu, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), dia menyebutkan proporsi angkatan bekerja Indonesia yang mencapai 50% tersebut hanya memiliki tingkat pendidikan SD ke bawah. Data tersebut cukup memberi gambaran mengenai kualitas SDM angkatan bekerja Indonesia.

Lebih lanjut, Chairul Tanjung mengungkapkan mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi dan sisi inovatif memang tidak mudah. Tetapi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil jika diikuti dengan komitmen pemerintah yang kuat disertai dengan gerakan masif dari masyarakat.

“Jika tidak ada perubahan yang mendasar, terutama pada sistem pendidikan Indonesia kita. Kualitas SDM kita ya hanya segitu-gitu saja, bahkan bisa menurun,”tekannya.

Resiko lainnya yang muncul akibat lemahnya kapasitas SDM adalah Indonesia akan terjebak pada jebakan negara berpendapatan kelas menengah dan kondisi tersebut rupanya tengah mengarah ke arah sana.

Peluang untuk terjebak pada jebakan negara berpendapatan menengah semakin besar adalah fakta yang menyebutkan bahwa hampir 60% pergerakan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik.

“Masyarakat Indonesia terkenal suka menghabiskan uang, tetapi tidak bisa membuat sesuatu. Ketika ini coba dihubungkan, mekanisme permintaan dan pasokan menjadi tidak seimbang hingga Indonesia terpaksa mengimpor barang-barang konsumsi tersebut,”imbuhnya.

Peningkatan konsumsi domestik merupakan hal yang positif, katanya, tetapi ketika tidak diimbangi dengan pasokan yang mencukupi untuk memenuhi permintaan tersebut justru menciptakan beban ekonomi.

Kondisi yang paling terlihat adalah melebarnya defisit neraca transaksi berjalan, defisit fiskal, dan pelemahan rupiah. “Untuk negara dengan tingkat ketergantungan impor yang tinggi, pelemahan Rupiah memiliki efek beruntun,”tambahnya.

Selain itu, katanya, Bank Indonesia (BI) terpaksa menaikkan suku bunga acuan untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan yang sempat melebar. Meskipun demikian, langkah BI memiliki konsekuensi memperlambat penciptaan lapangan kerja dan memukul sektor riil.

BONUS ATAU BEBAN

Menurutnya, perekonomian seharusnya ditopang oleh investasi jangka panjang dan proporsi SDM yang inovatif layaknya negara Amerika Serikat dan Korea Selatan. Bonus demografi Indonesia yang selalu digadang-gadang sebagai motor penggerak ekonomi terancam berbalik menjadi bom waktu apabila sebagain besar SDM-nya tidak memenuhi kualifikasi.

Apalagi, Indonesia memiliki peluang untuk menaklukkan pasar ekonomi Asean melalui Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 2015. Faktor daya saing yang tercermin dari kualitas SDM merupakan bekal utama untuk meraih peluang tersebut.  

Senada dengan Chairul Tanjung, Woosung Lee, peneliti Science and Technology Policy Institute (STEPI) Korea Selatan sempat menjelaskan ekonomi Korea Selatan saat ini didukung oleh SDM inovatif.

“Dahulu, sebelum Korea Selatan menjelma menjadi negara maju, negara ini [Korea Selatan] masih didorong oleh investasi sebagai motor penggerak ekonomi tetapi sekarang lebih banyak didorong oleh inovasi ,”ungkapnya.

Berkat inovasi juga, dirinya mengemukakan Korea Selatan berdiri di atas kaki sendiri dengan menciptakan teknologi-teknologi yang dikonsumsi oleh masyarakat Korea.

“Mungkin, di belahan dunia lain, atau Asia saja, Microsoft menjadi pemimpin teknologi software. Tetapi tidak di Korea, kami memiliki software buatan dalam negeri, sehingga memungkinkan untuk menyebarkannya ke segala penjuru dunia,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chairul tanjung ken
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top