Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Peluang Bisnis Kunyit, India Minta 7.000 Ton/Bulan

Pelaku usaha agribisnis menyayangkan rendahnya produksi komoditas kunyit di Jawa Barat di tengah meningkatnya ekspor untuk tanaman yang sering digunakan sebagai pewarna makanan.
Wandrik Panca Adiguna
Wandrik Panca Adiguna - Bisnis.com 23 Desember 2013  |  19:02 WIB
Ini Peluang Bisnis Kunyit, India Minta 7.000 Ton/Bulan
Ilustrasi - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG - Pelaku usaha agribisnis menyayangkan rendahnya produksi komoditas kunyit di Jawa Barat di tengah meningkatnya ekspor untuk tanaman yang sering digunakan sebagai pewarna makanan.

Direktur Agribisnis CV Fortuna Agro Mandiri Iyus Supriatna mengaku dirinya diminta untuk menyediakan kunyit basah sebanyak 7.000 ton per bulan ke India.

"Tetapi, saya tidak bisa menyanggupinya, sebab nilai kontraknya seperti borongan. Sehingga untuk menyediakan pasokan kunyit sebanyak itu tidak mungkin bisa terpenuhi," ujarnya kepada Bisnis, Senin (23/12/2013)

Selain itu, lanjut Iyus, kebutuhan kunyit untuk pasar domestik sendiri saat ini sudah cukup besar, sebab komoditas tersebut, juga sering digunakan sebagai bahan obat, pembuatan kapsul, jamu, dan industri makanan lainnya.

Bahkan, harganya pun cukup mengiurkan bagi para penjual kunyit. Saat ini di pasar internasional harga kunyit kering dijual seharga US$2 per kg, dengan rasio 1 kg kunyit kering berbanding dengan 10 kg kunyit basah.

Hingga kini, katanya, sebagian besar petani kunyit di Jabar menjual dalam bentuk kunyit yang masih basah.

"Dengan rangkaian proses panen yang dilakukan oleh petani. Maksimal harga yang bisa dijual petani harus mencapai Rp1.000 per kg kunyit basah, agar mendapat untung" ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rempah sektor agribisnis
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top