Cadangan BBM Agar Dinaikkan Cukup 30 Hari

Cadangan bahan bakar minyak (BBM) skala nasional diusulkan untuk ditambah agar cukup memenuhi kebutuhan selama 30 hari, sehingga pemerintah dapat memastikan ketahanan energi pada saat keadaan darurat.
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 20 November 2013  |  17:39 WIB
Cadangan BBM Agar Dinaikkan Cukup 30 Hari
Petugas memutar kontrol water sprinkler guna mendinginkan tangki Depot BBM milik PT Pertamina di Merauke, Papua, Selasa (29/10). Depot BBM yang berkapasitas 9.500 KL tersebut merupakan salah satu depot di perbatasan Indonesia - papua Nugini yang menyalurkan premium, kerosin, solar dan avtur. - antara

Bisnis.com, JAKARTA-Cadangan bahan bakar minyak (BBM) skala nasional diusulkan untuk ditambah agar cukup memenuhi kebutuhan selama 30 hari, sehingga pemerintah dapat memastikan ketahanan energi pada saat keadaan darurat.

IGN Wiraatmaja, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Kelembagaan dan Perencanaan Strategis, mengatakan Dewan Energi Nasional telah merencanakan agar cadangan BBM ditingkatkan menjadi cukup untuk memenuhi 30 hari. Dengan begitu, harus ada 45 juta barel BBM yang disimpan di dalam negeri.

“Untuk memenuhi cadangan 30 hari itu saja sudah memerlukan banyak BBM. Setidaknya harus ada 45 juta barel, dengan asumsi konsumsi BBM saat ini yang mencapai 1,5 juta barel per hari,” katanya di Jakarta, Rabu (20/11).

Untuk merealisasikan peningkatan cadangan itu, maka harus dibangun infrastruktur penyimpanan BBM baru. Pasalnya, tangki penyimpanan yang ada saat ini hanya cukup menyimpan BBM untuk kebutuhan 20 hingga 22 hari.

Wiraatmaja menuturkan pembangunan tangki itu akan melibatkan pihak swasta, karena memerlukan investasi yang besar. “Kalau anggaran yang ada saat ini digunakan untuk membangun fasilitas penyimpanan, maka program lain seperti listrik untuk desa tidak akan bisa jalan,” ujarnya.

Ali Mundakir, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), mengatakan pemerintah perlu memikirkan siapa yang akan membangun fasilitas dan infrastruktur penyimpanan BBM, jika ingin meningkatkan cadangan BBM menjadi 30 hari.

“Pemerintah juga harus memikirkan siapa nantinya yang akan membeli BBM untuk cadangan itu, karena itu akan menjadi investasi mati,” ujarnya.

Menurutnya, penambahan cadangan BBM itu harus menjadi beban pemerintah untuk memenuhinya, karena berkaitan langsung dengan ketahanan energi nasional.

Ali juga mengatakan pemerintah sebenarnya bisa mewajibkan pelaku industri hilir migas memiliki cadangan 20 hari dari omzet mereka di dalam negeri. Dengan kewajiban itu, pemerintah secara langsung mendapatkan tambahan cadangan BBM.

Sementara itu, Komaidi Notonegoro, pengamat energi dari ReforMiner Institute, mengatakan setidaknya Indonesia memiliki cadangan BBM untuk 1 bulan. Jumlah BBM yang dicadangkan pun harus menghitung konsumsi dan aktivitas ekonomi secara nasional.

“Sebenarnya semakin banyak cadangannya semakin bagus, karena ada beberapa negara yang memiliki cadangan untuk 3 bulan, bahkan ada yang mencapai tahunan. Cadangan ini sangat penting, karena energi menjadi penyokong utama perekonomian,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus berani segera melakukan tindakan untuk meningkatkan cadangan BBM di dalam negeri. Cadangan BBM saat ini yang hanya cukup untuk sekitar 23 hari sangat riskan untuk Indonesia yang memiliki karakteristik demografi kepulauan.

Sebelumnya, diusulkan juga pembangunan cadangan penyangga energi dilakukan secara bertahap, yakni untuk jangka pendek (2012-2015) meningkatkan cadangan saat ini yang mencukupi 23 hari konsumsi menjadi 30 hari impor.

Kemudian jangka menengah (2016-2020) meningkatkan cadangan menjadi 50 hari impor, dan jangka panjang (2021-2050) meningkatkan cadangan menjadi 90 hari impor.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ketersediaan bbm, pt pertamina

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top