Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Biofarma Jajaki Ekspor Pentabio

PT Biofarma (Persero) menjajaki untuk mengekspor produk vaksin terbarunya Pentabio yang merupakan gabungan vaksin jerap Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B Rekombinan, dan Haemophilus influenzae tipe b (DTP-HB-Hib) pada tahun depan.
Abdalah Gifar
Abdalah Gifar - Bisnis.com 28 Oktober 2013  |  20:37 WIB

Bisnis.com, BANDUNG - PT Biofarma (Persero) menjajaki untuk mengekspor produk vaksin terbarunya Pentabio yang merupakan gabungan vaksin jerap Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B Rekombinan, dan Haemophilus influenzae tipe b (DTP-HB-Hib) pada tahun depan.

Direktur Produksi PT Biofarma Juliman mengatakan untuk bisa mengekspor vaksin Pentabio secara global pihaknya masih menunggu prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai bagian dari ketentuan produksi vaksin dunia yang harus terpenuhi.

"Targetnya paling lama pertengahan tahun depan bisa mendapat sertifikat WHO," katanya kepada Bisnis di Kantor Pusat Biofarma di Bandung, Senin (28/10/2013)

Dia mengungkapkan Biofarma berencana tidak hanya akan memasok Pentabio ke negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Negara-negara Islam (OKI), tetapi secara lebih luas ke seluruh dunia.

Walau begitu, Juliman menyatakan target utama Pentabio adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengingat tugas utama Biofarma yaitu menyediakan vaksin untuk kebutuhan nasional.

"Tahun ini kami sudah memenuhi 50% kebutuhan nasional vaksis Pentabio. Tahun depan sudah bisa 100%, sambil kami menjajaki ekspor," ungkapnya.

Dia menjelaskan kapasitas produksi Biofarma untuk produk vaksin Pentabio dalam kondisi full capacity, dapat memproduksi vaksin ini pada kisaran 5 juta-10 juta dosis.

"Sangat bergantung dengan vaksin lain karena Pentabio mengisi vaksin yang diganti. Dulu DTP diganti DTP-HB, dan sekarang DTP-HB diganti vaksin Pentabio," tuturnya.

Sejauh ini, Biofarma masih mampu memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri serta pemenuhan permintaan dari luar negeri dengan mengoptimalkan pabrik yang ada di Pasteur Bandung.

"Sampai saat ini masih cukup. Kalaupun perlu ada penambahan gedung, kami rancang bangunan vertikal karena keterbatasan lahan. Ada rencana juga buka tempat baru, masih di Jawa Barat," ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga tengah menindaklanjuti pertemuan menteri kesehatan di bawah OKI yang digelar beberapa waktu lalu dan sudah siap untuk mengekspor produk vaksin setengah jadi sebagai bentuk upaya mendorong kemandirian vaksin di negara-negara Islam.

"Produsen vaksin yang sudah bekerjasama dengan kami itu Arab Saudi, Tunisia, Iran, dan Malaysia. Yang paling banyak itu Arab Saudi, karena mereka yang paling siap secara produksi dan akan disebar kembali ke negara-negara teluk," tuturnya.

Biofarma dari Indonesia menjadi satu-satunya produsen vaksin di negara anggota OKI yang telah diakui Badan Kesehatan Dunia untuk mengekspor vaksin secara global dengan jumlah produk sebanyak 11 item.

"Vaksis Biofarma dipilih karena faktor harga dan kesamaan dari negara Islam sehingga tidak ada kekhawatiran dibandingkan dengan membeli vaksin dari perusahaan multinasional," ujarnya.

Selain memasok vaksin setengah jadi, Biofarma siap menjadi motor untuk pusat riset (center of excellent) bagi negara-negara OKI dalam mengembangkan vaksin-vaksin baru sebagai bentuk kesepakatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi bumn farmasi
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top