Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

ASOSIASI JASA KONSTRUKSI: Djoko Kirmanto Minta Organisasi Genjot Kompetensi Anggota

Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 19 Mei 2013  |  16:00 WIB
ASOSIASI JASA KONSTRUKSI: Djoko Kirmanto Minta Organisasi Genjot Kompetensi Anggota

BISNIS.COM, JAKARTA--Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meminta asosiasi perusahaan jasa konstruksi untuk giat melakukan pembinaan anggotanya dalam kerangka peningkatan kemampuan dan kompetensi usahanya.

Asosiasi harus memberikan fasilitasi kepada anggota dalam melakukan penetrasi pasar konstruksi baik nasional maupun internasional.

“Asosiasi yang baik, asosiasi yang memiliki daya saing adalah asosiasi yang dapat melakukan pembinaan kepada anggotanya melalui peningkatan kemampuan dan kompetensi,” ujarnya dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Badan Pembina (BP) Konstruksi, Hediyanto Husaini dalam pelantikan Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Konstruksi Indonesia (DPN ASPEKINDO) periode 2013-2018 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menteri PU menilai rantai suplai konstruksi nasional belum terintegrasi secara konstruktif. Pelaku jasa konstruksi dengan berbagai skala usaha belum saling berkooperasi dan berkolaborasi dalam suatu model kemitraan yang saling menguntungkan.

Selain itu masih adanya ketimpangan struktur pasar dan industri konstruksi. Ia menjelaskan 85% nilai pasar konstruksi dikuasi oleh kontraktor non kecil dengan jumlah 13% dari 182.800 badan usaha.

Sementara 15% nilai pasarnya diperebutkan oleh 87% badan usaha jasa konstruksi.

“Keadaan ini menyebabkan persaingan usaha di pasar konstruksi skala kecil menjadi tidak sehat dan terdistorsi,” terangnya.

Sementara itu Ketua Umum DPN ASPEKINDO Tumpal Sianipar menyatakan pihaknya siap melaksanakan permintaan pemerintah dalam hal peningkatan kemampuan dan kompetensi para anggotanya.

Menurutnya hal tersebut sangat penting guna menyambut pasar bebas negara-negara Asia Tenggara yang berlaku pada 2015.

“Tantangan selama ini yang jadi momok ialah sulitnya jaminan permodalan dari perbankan yang kita maklumi aturannya memang konservatif, sehingga diperlukan pihak ketiga yang berfungsi sebagai penjamin seperti Askrindo,” ucap Tumpal.

Lebih lanjut Dia mengharapkan, dengan adanya kerjasama dengan BUMN tersebut, pengusaha jasa konstruksi skala kecil dan menengah dapat lebih berani ekspansi untuk melakukan pekerjaan pembangunan infrastruktur, sehingga nantinya, skala pekerjaan mereka dapat meningkat.

"Kita akan tingkatkan kerja sama dengan BUMN Karya yang besar-besar itu sebagai sub kontraktor," jelasnya.(c27/yop)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Yoseph Pencawan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top