Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA KOPI: Eksportir bidik pasar lokal

 
Reporter 1
Reporter 1 - Bisnis.com 13 Mei 2012  |  17:13 WIB

 

 

SEMARANG: Eksportir kopi ramai-ramai membidik pasar lokal menyusul kecenderungan pertumbuhan konsumsi kopi dalam negeri yang trend-nya terus naik sebesar 6%-8% per tahun.

 

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jateng Mulyono Soesilo mengatakan eksportir kopi belakangan ini makin terjepit. ”Pasar ekspor mulai turun karena berbagai sebab, salah satunya krisis global dan anomali cuaca yang membuat produksi merosot,” katanya, hari ini, mInggu 13 Mei 2012.

 

Sementara konsumsi kopi dalam negeri saat ini cukup besar, yakni sekitar 270.000 ton, kondisi ini mendorong eksportir untuk bermain di pasar lokal yang selama ini kurang dilirik.

 

Menurut dia, konsumsi dalam negeri tahun lalu 3 juta - 3,5 juta karung, tahun ini diprediksi naik, 6%-8% menjadi 3,5 juta - 4 juta karung, bahkan mungkin lebih karena jumlah angkatan muda yang gemar kopi murni bertambah.

 

Dia juga menyebutkan saat ini produksi kopi nasional mencapai 300.000 ton menurun atau merosot jika dibandingkan dengan kondisi normal pro­duksi kopi robusta di Indonesia mencapai 450.000 ton.

 

Mulyono menyebutkan konsumsi kopi dalam negeri cen­derung terus naik 6%-8% per tahun.  Trend minum kopi mumi di kafe terus berkembang. Hal itu yang membuat konsumsi kopi melonjak luar biasa," paparnya.

 

fokus pasar lokal

 

Saat ini, jelas Mulyono, yang juga Manager ekspor, PT Taman Delta Indonesia, eksportir kopi fokus menggarap pasar lokal karena dini­lai lebih menguntungkan daripada pasar luar negeri. Harga kopi dalam negeri juga lebih mahal 20%-30% daripada harga ekspor.

 

Harga kopi di luar negeri saat ini US$ 2.040 per ton, sedangkan harga dalam negeri US$2.250 per ton.

 

"Mau tidak mau eksportir harus me­nunggu dan melihat dulu perkembangan pasar. Tapi selain itu, kami ingin memodi­fikasi kopi yang akan diekspor, contohnya memproduksi kopi goreng." jelasnya.

 

Selama ini, pasar ekspor kopi terbesar Jateng adalah Jepang dengan kontribusi 50%-60%. Setelah itu AS, Jerman, Italia dan Timur Tengah. Adapun, luas lahan kebun kopi di Jateng sekitar 22.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Sermarang, Temanggung, Kendal, Pati, Purbalingga.

 

Mulyono mengatakan penurunan produksi kopi akibat anomali cuaca berdampak pada realisasi ekspor. Selama Januari-Maret 2012 volume ekspor kopi Jateng anjlok hingga 71 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

 

Mulyono mengatakan total ekspor kopi Januari-Maret 2012 hanya 800 ton senilai US$2,722 juta, sedangkan periode yang sama 2011 mencapai 2.838 ton seni­lai US$6,337 juta.

 

Menurut dia, merosotnya expor kopi dikarenakan terkena dampak anomali cuaca pada 2010, yang masih berpengaruh kuat ter­hadap produksi tanaman tersebut.

 

"Meski Mei dan Juni nanti Jateng mulai panen kopi, kami pesimistis ekspor kopi bisa membaik. Jika dalam 5-8 tahun ke depan tidak ada peningkatan jumlah produksi, kebutuhan kopi Indonesia diprediksi tidak akan terpenuhi," tuturnya.

 

Menurut dia, kopi adalah produk unik. Dampak gangguan anomali cuaca membutuhkan pemulihan selama 2 tahun. Panen yang buruk tahun ini dise­babkan oleh panen yang jelek 2011, sedangkan panen 2011 yang jelek akibat panen yang buruk pada 2010 karena cuaca ekstrem

 

"Kami khawatir cuaca tahun ini kem­bali seperti 2010. Ekspor kopi 2013 bisa anjlok lagi, karena apabila dahan dan ran­ting pohon kopi rusak, tahun depan tana­man baru bisa recovery, dan 2 tahun kemudian baru bisa berbuah. Apalagi pada jenis arabika yang sangat sensitif," ujarnya.(msb)

 

 

 

+ JANGAN LEWATKAN:

>>> 10 ARTIKEL PILIHAN REDAKSI HARI INI

>>> 5 KANAL TERPOPULER BISNIS.COM

>>> 10 ARTIKEL MOST VIEWED BISNIS.COM

>>BACA JUGA

Gara-gara JPMorgan, ORANG TERKAYA DI DUNIA merugi US$4,2 miliar

KRONOLOGI JATUHNYA SUKHOI versi Kementerian Perhubungan

KINERJA KUARTAL I/2012: Laba bersih Bakrie Plantations anjlok 64%

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Endot Brilliantono

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top