Kerajiinan KAOS dan SABLON Bandung berkembang

BANDUNG: Mengandalkan pelanggan, Sentra Kaos dan Sablon Suci (SKSS) Bandung berhasil meraup transaksi pemesanan seragam sekolah hingga Rp 60 miliar pada tahun lalu. Sementara di segmen kaus atau t-shirt, omzetnya mencapai Rp 24 miliar.Marak berdiri sepanjang
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 April 2012  |  14:15 WIB

BANDUNG: Mengandalkan pelanggan, Sentra Kaos dan Sablon Suci (SKSS) Bandung berhasil meraup transaksi pemesanan seragam sekolah hingga Rp 60 miliar pada tahun lalu. Sementara di segmen kaus atau t-shirt, omzetnya mencapai Rp 24 miliar.Marak berdiri sepanjang Jalan Surapati dan Suci, keberadaan Sentra Kaos Suci (SKSS) seperti tak terimbas membanjirnya produk tekstil import dari Cina. SKS bertahan dengan mengandalkan pelanggan ketimbang ritel."Kami memiliki segmen pasar yang berbeda. Segmen pasar kami lebih pada pelanggan atau pemesan, bukan ritel," kata Ketua Koperasi SKS Marnawi Munamah.Konsumen SKS datang dari berbagai daerah di luar Jawa Barat seperti Makassar (Sulawesi Selatan), Palembang, (Sumatera Barat), Bangka-Belitung, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan)."Mayoritas pemesan lembaga pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi," katanya. Setiap ajaran baru, tingkat pemesanan dari lembaga pendidikan menurutnya melebihi kondisi normal. "Angka pemesanan mencapai jutaan potong, nilai pesanannya pun besar," katanya.Data Koperasi SKS, tahun lalu, khusus pemesanan seragam sekolah, yang terdiri atas seragam harian, batik, dan baju olah raga nilanya mencapai Rp 60 miliar. Pada 2011, pemesanan baju sekolah mulai berlangsung pada April-Mei dan berakhir pada Juli-Agustus.Tahun ajaran baru 2012-2013, ia memperkirakan pemesanan bakal lebih tinggi."Perkiraannya, nilai pemesanan tahun ini mencapai Rp 80 miliar," kata Marnawi.Meski diprediksikan tinggi, kondisi yang terjadi agak berbeda dengan tahun lalu. Menurut Marnawi, saat ini tingkat pemesanan masih terbilang sepi. Ia menduga rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) akhir Maret lalu membuat para pemesan menunggu perkembangan. "Mereka menunggu perkembangan karena berkaitan dengan harga yang kami tetapkan," katanya.Pelaku SKS sendiri masih sulit menentukan harga jual meski kenaikan BBM tertunda karena bahan baku seperti kain katun mengalami kenaikan sekitar 20%.  "Untuk kain, sebelumnya, harga jualnya Rp 80-90 ribu per kilogram. Kini, harga jualnya Rp 100-120 ribu per kilogram," kata Marnawi.Para pelaku berencana menaikan harga jual pada konsumen sekitar 20%.  Meski begitu, Marnawi optimistis bahwa nilai pemesanan seragam sekolah menjelang tahun ajaran baru 2012-2013 dapat terealisasi."Saya kira, yang terjadi adalah, kalau harga naik, mungkin volume pemesanan turun. Itu dapat terjadi karena penyesuaian anggaran setiap pemesan," katanya.Sementara itu, untuk penjualan t-shirt SKSS  menargetkan kenaikan omset mencapai 30% di tahun 2012. Menurut Ketua Forum Komunikasi Sentra Kaos dan Sablon Suci Asep Hamim total omset sentra industri Suci mencapai sekitar Rp24 miliar untuk tahun lalu.  "Sekitar 60% pemesanan kaos masih dari Pulau Jawa dan sisanya di luar Jawa," katanya pada bisnis. Pihaknya memprediksi pemesanan pun akan lebih meningkat lagi terutama dari luar negeri, seperti Malaysia."Yang memesan kaos dari luar negeri paling banyak Malasyia, hampir 80% dari ekspor kami," ujarnya.Menurut Hamim, SKSS tidak mengandalkan penjualan t-shirt dari ajang pemilihan kepala daerah. "Pendapatan dari kampanye pilkada terhitung kecil," katanya.Pasalnya, selain biaya dan harganya sangat tipis, jumlah order yang diterima pun bahkan terlampau besar. "Jadi mau tidak mau harus mengajak pengusaha lainnya untuk membantu menyelesaikan permintaan tepat waktu," katanya.Kenaikan omzet dan tingkat pemesanan SKSS menurut Hamim bisa makin tinggi jika pemerintah daerah ikut membantu promosi. "Paling penting adalah adanya keterlibatan dari dinas pariwisata untuk mempromosikan produk dari Kawasan Industri Suci," katanya.Menurutnya, para pengusaha hanya memproduksi produk apabila ada job order. "Kalau tidak ada job order maka tidak ada pemasukan untuk pengusaha," katanya. (ra)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ringkang Gumiwang, Wisnu Wage Pamungkas

Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top