Industri kecantikan diprediksi tumbuh 20%

MEDAN: Berbagai kalangan menilai industri kecantikan dalam arti luas memiliki peluang besar di Indonesia, sementara pertumbuhan hingga 2014 diperkirakan mencapai 20%.Patricia Medina, seorang praktisi kecantikan menegaskan nilai transaksi industri kecantikan
Andi Suhendri Rambe
Andi Suhendri Rambe - Bisnis.com 22 September 2011  |  16:11 WIB

MEDAN: Berbagai kalangan menilai industri kecantikan dalam arti luas memiliki peluang besar di Indonesia, sementara pertumbuhan hingga 2014 diperkirakan mencapai 20%.Patricia Medina, seorang praktisi kecantikan menegaskan nilai transaksi industri kecantikan di Indonesia tahun lalu diduga mencapai US$5 miliar dengan pertumbuhan sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya.“Industri kecantikan di Indonesia sangat menjanjikan. Selain jumlah penduduk Indonesia lebih didominasi wanita, kaum lelaki juga sudah gandrung mempercantik diri,” ujarnya di Medan hari ini.Menurut dia, Indonesia salah satu negara memiliki potensi besar dalam industri kecantikan. Negara lainnya, lanjut dia, Ukrania dan Turki.Kalau dibandingkan dengan nilai industri kecantikan di dunia, menurut dia, nilai total traksansi industri kecantikan di Indonesia tergolong masih relatif kecil. Mengutip angka dari berbagai sumber, dia membeberkan nilai total transaksi industri kecantikan di pasar global menembus angka US$70 miliar tahun lalu dan pada 2014 diproyeksikan mampu menembus US$85,5 miliar. “Pertumbuhan secara global diperkirakan mencapai 15% per tahun,” tuturnya.Industri kecantikan a.l. pabrikan bahan-bahan kencantikan, eksportir, agen besar, service providers yang berhubungan dengan cosmetic, kecantikan, spa, dan medical.Sementara itu, Presiden Direktur PT Prakarsa Sinergi Utama (PSU)—penyelenggara pameran kecantikan di Indonesia dan sejumlah negara di Asean—Juanita Soerakoesoemah membenarkan industri kecantikan di Indonesia sangat menjanjikan dan memiliki potensi besar untuk berkembang.Selain mampu menciptakan lapangan kerja yang besar, tuturnya, industri kecantikan sudah teruji pada krisis ekonomi pertengahan 2008. Industri kecantikan, tegasnya, pada 2008 tidak mengalami krisis sebagaimana industri lainnya. “Salah satu industri yang mampu bertahan pada krisis ekonomi 2008 adalah industri kecantikan karena dibutuhkan sebagian besar perempuan,” tandasnya.Sebagai pelaksana pameran industri kecantikan di Indonesia, Vietnam dan Malaysia, PSU melihat kaum perempuan Indonesia perlu diajari menggeluti industri kencantikan selain yang ada dari dalam negeri, juga menjadi agen atau distributor produk kecantikan dari luar negeri.“Ini peluang bisnis untuk mengembangkan kaum perempuan sebagai pebisnis. Perempuan jangan hanya terjun pada dunia hiburan atau sinetron, pekerja atau buruh pabrik, namun harus mampu menciptakan lapangan kerja bagi wanita di sekitarnya.”Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Sumut yang juga wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatra Utara  Tati Habib Nasution melihat perempuan Indonesia lebih dominan sebagai pasar produk kecantikan dari luar negeri. Padahal, tuturnya, produk-produk kecantikan yang dihasilkan nenek moyang kita dapat dikembangkan dan dibawa ke forum dunia.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top