Pengusaha diminta prioritaskan nasib pekerja

JAKARTA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pengusaha memprioritaskan penyelamatan nasib buruh dalam menghadapi risiko dampak negatif dari krisis ekonomi AS dan Eropa yang kini berlangsung.Lebih jauh, pemerintah mengajak kalangan pengusaha untuk
- Bisnis.com 20 September 2011  |  15:25 WIB

JAKARTA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pengusaha memprioritaskan penyelamatan nasib buruh dalam menghadapi risiko dampak negatif dari krisis ekonomi AS dan Eropa yang kini berlangsung.Lebih jauh, pemerintah mengajak kalangan pengusaha untuk bersinergi dalam menggerakkan pembangunan di Tanah Air dengan sasaran bisa mencapai angka pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7%-8%.Pernyataan itu disampaikannya dalam kata pengantar pada pertemuan bilateral antara pemerintah dan pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Gedung Sekretariat Negara, hari ini.Dalam kesempatan itu hadir pengurus asosiasi itu, di antaranya Sofjan Wanandi selaku Ketum, Trihatma K. Haliman, Chris Kanter, Franciscus Welirang, dan Handaka Santosa.Presiden Yudhoyono didampingi para menteri dan pimpina lembaga, a.l. Ketua KEN Chairul Tanjung, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menkeu Agus Martowardojo, Menakertrans Muhaimin Iskandar, dan Kepala BKPM Gita Wiryawan.Menurut Kepala Negara, kontribusi pengusaha yang tergabung dalam Apindo sangat besar bagi pengembangan ekonomi nasional dan penyelematan nasib pekerja pada saat menghadapi krisis AS pada 2008-2009."Saya masih ingat Apindo, serikat pekerja, dan pemerintah dalam tripartit kita bisa cari solusi. Penuh pengertian, serikat pekerja ketika ekonomi bermasalah mereka tidak menambah masalah baru. Demikian juga dunia usaha mereka juga mendorong kesejahteraan dan buahnya manis [pencapaian pertumbuhan ekonomi]," ujarnya dalam kesempatan tersebut.Hal itu, ungkap Kepala Negara, mendapatkan perhatian dari dunia internasional sehingga Apindo dan dirinya selaku Presiden diundang ILO, organisasi buruh se dunia untuk menyampaikan kiat Indonesia sukses menghadapi krisis 2008-2009. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top