Ciputra lirik Myanmar & Laos

JAKARTA: Ciputra Group melirik Myanmar dan Laos untuk ekspansi proyek residential ke luar negeri, saat ini perusahaan properti tersebut memiliki di Vietnam, Kamboja, China dan India.President Director Ciputra Group Candra Ciputra mengatakan untuk masuk
Deriz Syarief
Deriz Syarief - Bisnis.com 19 September 2011  |  19:31 WIB

JAKARTA: Ciputra Group melirik Myanmar dan Laos untuk ekspansi proyek residential ke luar negeri, saat ini perusahaan properti tersebut memiliki di Vietnam, Kamboja, China dan India.President Director Ciputra Group Candra Ciputra mengatakan untuk masuk mengembangkan properti ke negara lain perusahaan melihat gross domestic product (GDB/ produk domestik bruto) negara tersebut dan pasar modal (capital market)nya. Tetapi, dia enggan menyebut berapa investasi yang disiapkan.“Proyek kami yang saat ini sudah ada di Vietnam, Kamboja, China dan India. Pendanaan setiap proyek bergantung pada GDB masing-masing negara tersebut. Kami berencana masuk ke negara lain seperti Myanmar dan Laos, untuk ke Amerika dan Eropa kurang menarik karena tidak bagus,” tutur Candra, kemarin.Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar mengatakan strategi yang dilakukan perusahaan pada pengembangan properti di negara lain yakni dengan bekerjasama joint venture dengan pengembang lokal negara yang bersangkutan dan pola pengembangan properti secara bertahap.“Dalam perjanjian kerjasama selalu ada klausul pola pengembangan proyek secara bertahap karena kami tidak mau investasi besar-besaran hanya dalam satu proyek. Kami lebih memilih untuk mengembangkan residential dengan berpartner dengan investor lokal,” kata Artadinata, kemarin.Sebagai contoh pada pengembangan proyek properti Ciputra di China, lanjutnya, perusahaan melihat volume bisnis yang cukup besar dimana lebih dari 25 kota di China memiliki jumlah penduduk yang lebih dari 5 juta penduduk. Kedua, karena pertumbuhan ekonomi China masih tinggi sehingga industri properti juga berkembang.Selain itu, banyaknya transformasi kekayaan penduduk China dari kelas bawah ke kelas menengah sehingga banyak memunculkan urbanisasi besar-besaran. Menurutnya diperkirakan transformasi kekayaan dan urbanisasi masih berlangsung dalam 10 tahun ke depan.Rina Ciputra Sastrawinata, Managing Director Ciputra Group mengatakan perusahaan akan masuk mengembangkan properti pada negara yang memiliki teknisi sumber daya manusia di bidang properti yang lebih rendah dari Indonesia.“Kami bisa masuk pada negara yang memiliki teknisi lebih rendah dari Indonesia. Kalau masuk seperti ke Singapura dan Hongkong, di sana sudah banyak pengembang yang berkualitas, investasi cukup besar dan marjinnya kecil sehingga kami kurang tertarik mengembangkan properti di sana,” kata dia, kemarin.Ciputra Group memiliki proyek kota mandiri di Shenyang, China seluas 313 hektare yang rencananya akan dikembangkan dalam 12 tahun dengan 6 tahap hingga 8 tahap dimana setiap tahapan perusahaan hanya mengembangkan 16 hektare.Kedua, proyek di Hanoi, Vietnam bernama Ciputra Hanoi International City seluas 368 hektare yang rencananya akan dikembangkan perumahan, apartemen kelas menengah dan atas dan fasilitas penunjang lainnya.Di Kamboja Ciputra mengembangkan proyek di Phnom Penh, ibukota Kerajaan Kamboja di atas lahan seluas 260 hektare dimana proyek tersebut dimulai pada 2006. Sedangkan di India, Ciputra memiliki proyek di Kolkata tepatnya di daerah Howrah, sebelah barat Kolkata yang merupakan salah satu kota industri tertua di West Bengal seluas 400 hektare. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top