BKKBN usul tambahan anggaran Rp941 miliar

JAKARTA: Kepala BKKBN Sugiri Syarief mengajukan usulan penambahan pagu anggaran BKKBN pada 2012 sebesar Rp941 miliar menjadi Rp3,5 triliun, dari sebelumnya yang sudah disetujui DPR sebesar Rp2,5 triliun.Usulan penambahan pagu anggaran kegiatan Badan
Adhitya Noviardi
Adhitya Noviardi - Bisnis.com 15 September 2011  |  19:42 WIB

JAKARTA: Kepala BKKBN Sugiri Syarief mengajukan usulan penambahan pagu anggaran BKKBN pada 2012 sebesar Rp941 miliar menjadi Rp3,5 triliun, dari sebelumnya yang sudah disetujui DPR sebesar Rp2,5 triliun.Usulan penambahan pagu anggaran kegiatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana untuk tahun depan itu disampaikan Sugiri dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR hari ini yang dipimpin oleh Supriyatno.Menurut Sugiri, usulan penambahan pagu definitif tersebut terkait dengan bertambahnya berbagai program kegiatan dalam badan tersebut. Program tersebut a.l. program teknis menjadi Rp3,268 triliun. Di dalamnya termasuk program pengendalian penduduk, pembinaan dan peningkatan kemandirian KB, peningkatan advokasi, penggerakan dan informasi."Usulan tambahan kebutuhan dukungan anggaran 2012, a.l. untuk mendukung kegiatan pemenuhan kebutuhan implant, juga untuk penguatan lini lapangan, dan dukungan operasional petugas lapangan KB dan IMP," ujar Sugiri dalam rapat yang berlangsung sore ini.Selain itu, katanya, pihaknya juga mengusulkan dukungan dana alokasi khusus (DAK) bidang keluarga berencana 2012 sebesar Rp486,5 miliar. Dana ini dipakai untuk pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan KB di kabupaten/kota, berupa a.l. sepeda motor, mobil pelayanan, mobil penerangan, sarana perlengkapan PLKB, dan pembangunan balai penyuluh.Sugiri menjelaskan permasalahan yang dihadapi pembangunan bidang kependudukan dan KB, a.l. masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dan jumlah pertambahan penduduk. Masih tingginya disparitas angka kelahiran total/TFR antarprovinsi, serta disparitas menurut tingkat pendidikan, tingkat kesejahteraan, dan wilayah pedesan-perkotaan.Selain itu, tambahnya, juga masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran remaja dan pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi, serta belum sinergisnya kebijakan pengendalian penduduk, dan masih terbatasnya ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top