Pengadaan beras Bulog tahun depan 3,2 juta ton

JAKARTA: Perum Bulog menetapkan pengadaan beras pada 2011 akan mencapai 3,2 juta ton dan diupayakan dari dalam negeri.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 28 Desember 2010  |  13:13 WIB

JAKARTA: Perum Bulog menetapkan pengadaan beras pada 2011 akan mencapai 3,2 juta ton dan diupayakan dari dalam negeri.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso optimistis pengadaan beras Bulog sebanyak itu akan dicapai dan meningkat dibandingkan dengan pengadaan 2010 yang mencapai 3,01 juta ton, sudah termasuk dari impor 1,08 juta ton.

"Produksi [beras di Tanah Air] awal tahun depan diprediksi baik, ditambah dengan ketersediaan cadangan akhir tahun ini 1,5 juta ton," ujar Sutarto di Jakarta, kemarin. Apalagi, kata Sutarto, pemerintah telah menetapkan peningkatan produksi beras setiap tahun 3,2%. "Peningkatan produksi beras 2011,saya yakin dapat menyentuh 4% sehingga target 3,2% dapat tercapai dengan mudah."

"Apalagi akan dikeluarkan inpres baru tentang Bulog yang memungkinkan Bulog punya fleksibilitas untuk membeli beras dari berbagai kualitas. Jadi, kalau 3,2 juta ton, saya kira kita tidak perlu impor. Karena cadangan 1,5 juta ton sudah cukup," tambahnya.

Sutarto mengatakan pihaknya akan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi target itu. "Jika pengadaan 3,2 juta ton sulit dipenuhi dari dalam negeri, Bulog akan mengimpor, tetapi dengan beberapa syarat," ujarnya.

Menurut Sutarto, sebelum melakukan impor, misalnya, pihaknya akan menganalisa lebih dahulu. Terutama yang terkait dengan apakah produksi memang tidak dapat mencukupi ataukah karena persoalan harga yang melambung tinggi.

"Pada 2011, banyak yang memprediksi harga naik, tetapi dari diskusi di Thailand, Vietnam, dan Pakistan ada kemungkinan produksi bagus pada awal 2011. Di Indonesia, mudah-mudahan, Januari Februari tidak terjadi banjir besar yang dapat mengganggu produksi," tutur Sutarto.

"[Namun] Kalau harga yang menjadi persoalan, Bulog akan melakukan OP [operasi pasar] pada Juli seperti yang terjadi pada 2010. Itu luar biasa, karena dalam sejarah, OP biasanya pada November-Desember. Akhir tahun sudah biasa harga melambung tinggi," ujar Sutarto.

Namun, jika persoalan berasal dari produktivitas dalam negeri yang menurun, impor beras harus dilakukan secepatnya, yaitu ketika angka ramalan II mulai diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar Juni 2011. "Ini untuk mengantisipasi tingginya harga beras pada akhir tahun di pasar internasional," tuturnya.

Selain itu, sebagai antisipasi naiknya harga, Sutarto menegaskan sebaiknya rencana impor tidak diumumkan. "Jujur saja. Sebenarnya, sejak awal rencana impor saya pada tahun ini 1 juta ton, tetapi saya tidak pernah mengumumkan. Kalau negara produsen tahu kita butuh beras banyak, mereka pasti menaikkan harga," kata dia.

Pada tahun ini, Bulog telah mengimpor 1,23 juta ton beras dari Thailand dan Vietnam. Rinciannya 800.000 ton dari Thailand terdiri dari 700.000 ton broken 15% dan 100.000 ton broken 5%. Sementara itu, dari Vietnam, Bulog mengimpor 280.000 ton broken 5%, dan tambahan 150.000 ton. Namun, tambahan tersebut masih dalam proses tawar menawar harga.(msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top