Olahan bubuk tempe bisa setop diare

Yeni H. Simanjuntak | 20 Desember 2010 04:29 WIB

JAKARTA: Pengolahan tempe menjadi bentuk susu (bubuk) dapat diterima cukup baik oleh penderita diare, tetapi masih memerlukan teknologi pengolahan untuk menghasilkan minuman fungsional berbasis tempe tersebut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mira Dewi, Faisal Anwar, Ali Komsan, dan Dadang Sukandar dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang pengembangan produk tempe dalam bentuk susu bubuk menunjukkan bahwa pemberian tempe dalam bentuk bubuk dapat diterima dengan cukup baik oleh penderita.

Penelitian tersebut berhasil memformulasi pembuatan produk bubuk susu tempe berikut dengan analisis sifat kimia dan fisik produk, uji daya terima produk, dan uji klinis produk pada kasus diare pada sampel anak usia 2-5 tahun.

Berdasarkan penelitian itu, agar rasa dan aromanya bisa diterima oleh penderita diare, maka selain tersusun dari tepung tempe, dalam proses pengolahannya ditambahkan bahan-bahan di antaranya susu instan full cream, garam, sukralosa, serta flavor, mocca.

Untuk melihat dosis bubuk tempe yang dapat diterima oleh konsumen digunakan dosis 12,5 gram dan 25 gram dan dosis susu instan digunakan konsentrasi 0, 2,5 dan 4 gram untuk setiap 25 gram dan 12,5 gram bubuk tempe.

Dari perbandingan hasil uji sifat kimia, fisik, dan organoleptik diketahui bahwa waktu fermentasi optimal untuk mendapatkan mutu dan penerimaan terbaik adalah lama fermentasi 36 jam.

Uji klinis mengenai manfaat produk ini untuk membantu penyembuhan diare pada anak-anak penting dilakukan, mengingat tempe mengalami berbagai tahapan proses dalam pengolahannya menjadi susu bubuk, yang bisa jadi berpengaruh terhadap manfaatnya dari segi klinis.

Hasil intervensi tempe atau produk susu tempe selama dua hari yang dilakukan tim peneliti pada anak penderita diare akut secara nyata mempercepat penurunan frekuensi diare yang dianalisis berdasarkan perkembangan klinis selama 5 hari.

Menurut tim peneliti dari IPB itu, hasil penelitian tersebut mempunyai arti penting dalam mewujudkan diversifikasi olahan produk tempe, yang tidak hanya bergizi tinggi tetapi juga mempunyai khasiat obat.(jha)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top