Bunga kredit UKM dinilai masih tinggi

JAKARTA: Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai hingga kini biaya dana (capital cost) bagi pelaku UKM masih tinggi karena perbankan mematok bunga antara 16%--23% dan minimnya alternatif akses pembiayaan.
Basilius Triharyanto
Basilius Triharyanto - Bisnis.com 08 Desember 2010  |  11:43 WIB

JAKARTA: Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai hingga kini biaya dana (capital cost) bagi pelaku UKM masih tinggi karena perbankan mematok bunga antara 16%--23% dan minimnya alternatif akses pembiayaan.

Rata-rata pelaku UKM Indonesia hanya mengandalkan bank. Ini disebabkan alternatif lain sangat minim, kata Ketum Hipmi Erwin Aksa kepada Bisnis seusai berkunjung ke New York Stock Exchange (NYSE) di kawasan Wall Street, AS, hari ini.

Perbankan, menurutnya, bahkan nyaris tidak ada yang bisa diandalkan untuk membiayai kegiatan usaha UKM. Kondisi seperti inilah yang membuat bunga bank tidak bisa kompetitif, terutama bagi pelaku UKM.

Usai berkunjung ke NYSE di kawasan finansial Wall Street, Hipmi memperoleh masukan tentang kondisi UKM di AS yang telah melantai di bursa sebagai alternatif pendanaan usaha.

"UKM di AS bisa tumbuh dengan baik karena sumber pendanaan bervariasi misalnya asuk ke bursa saham, dan ada juga Angel Fund, dana langsung dari pemerintah, dari perbankan, dan sumber pembiayaan lain.

Dengan sumber bervariasi, lanjut Erwin, UKM di AS bisa memperoleh bunga pinjaman yang sangat kompetitif dan murah. "Situasi seperti ini sulit ditemukan di Indonesia karena cuma mengandalkan bank. Akibatnya sulit menurunkan bunga kredit." (ra)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top