Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Siasat Sri Mulyani & BI saat Rupiah Ambyar dan Modal Asing Rp21,46 Triliun Kabur dari RI

Berikut strategi Menkeu Sri Mulyani dan BI saat rupiah ambyar ke level Rp16.200 per dolar AS dan Rp21,46 triliun modal asing kabur dari pasar keuangan RI
Akbar Evandio,Jessica Gabriela Soehandoko,Maria Elena
Sabtu, 20 April 2024 | 09:08
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di acara pembukaan 3rd FMCBG Meeting di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7/2022). Dok Istimewa
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di acara pembukaan 3rd FMCBG Meeting di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7/2022). Dok Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memasang ancang-ancang untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang anjlok dan kaburnya modal asing dari pasar keuangan RI akibat memanasnya konflik antara Iran vs Israel. 

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati menuturkan beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi perekonomian negara dari kenaikan dolar Amerika Serikat (AS). 

Dalam wawancaranya kepada Bloomberg TV, di sela-sela pertemuan Spring Meeting IMF-World Bank di Washington DC, dia menjelaskan bahwa pihaknya telah bekerja dengan sangat erat dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warijo. 

“[Pemerintah fokus untuk memastikan bahwa kebijakan fiskal dapat berfungsi sebagai] peredam guncangan yang efektif dan kredibel,” tuturnya, seperti dikutip dari Bloomberg pada Jumat (19/4/2024). 

Adapun, Dia juga menuturkan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menahan diri dalam melakukan pembelian dolar dalam jumlah besar, untuk keperluan impor atau pembayaran utang untuk menghindari tekanan tambahan pada rupiah. 

Eksportir sumber daya alam juga diingatkan untuk mematuhi aturan repatriasi pendapatan dolar AS untuk menopang cadangan devisa negara.

"Meskipun penguatan dolar AS dapat meningkatkan pendapatan pada ekspor, hal ini berisiko dapat menambah tekanan inflasi melalui impor," ujar Sri Mulyani. 

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memanggil Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan menteri-menteri kabinet untuk membahas permasalahan global dan imbasnya ke rupiah.

Perry mengatakan bahwa Bank Sentral RI itu akan memastikan nilai tukar terjaga melalui sejumlah skema, seperti pasar spot (tunai) atau pembelian secara tunai maupun non delivery forward (NFD).

“Kami akan memastikan nilai tukar akan terjaga, kami lakukan intervensi baik melalui spot maupun non delivery forward [NFD]. Kami jajakan koordinasi dengan pemerintah dengan fiskal bagaimana jaga moneter dan fiskal. Kami pastikan kami di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi,” ujarnya kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (16/4/2024).

Lebih lanjut, dia mengamini bahwa akan ada arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS 

“Nanti ada [arahan],” pungkas Perry.

Di kesempatan berbeda, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa upaya Bank Sentral RI itu untuk melengkapi dalam memastikan nilai tukar terjaga melalui sejumlah skema lainnya, seperti pasar spot (tunai) atau pembelian secara tunai maupun NDF.

“Untungya BI ada beberapa instrumen keuangan selain triple intervention, jadi kita masuk di spot, masuk di DNDF, dan kalau dibutuhkan kita akan support [beli] SBN di SBN Market. Namun, kami juga lihat bahwa tekanan di bond yield tinggi, kami akan lihat SBN sampai seberapa jauh baru kita akan masuk,” tuturnya kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (17/4/2024). 

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah juga terjadi karena faktor global dan bukan dipengaruhi oleh faktor domestik. Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih terjaga. 

Meski begitu, Destry menekankan bahwa meskipun faktor domestik tidak memiliki masalah, tetapi Bank Indonesia memastikan bahwa pihaknya akan bersama mengawal di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. 

“Domestik kita gak ada masalah everything is ok, inflasi under control, growth-nya juga kemarin lebaran aktivitas konsumsi masyarakat bagus. Jadi ini memang shock dari global yang kenanya tidak hanya Indonesia,” pungkas Destry.

Modal Asing Rp21,46 Triliun Kabur 

Modal asing sebesar Rp21,46 triliun kabur dari pasar keuangan Indonesia pada pekan ketiga April seiring anjloknya nilai tukar rupiah hingga tembus Rp16.200 per dolar AS. 

Berdasarkan data transaksi 16 – 18 April 2024 yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp21,46 triliun. 

"Total Rp21,46 triliun terdiri dari jual neto Rp9,79 triliun di pasar SBN [surat berharga negara], jual neto Rp3,67 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp8,00 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia [SRBI]," kata Asisten Gubernur, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono melalui keterangan resmi, dikutip Sabtu (20/4/2024).

Sepanjang 2024, berdasarkan data setelmen s.d. 18 April 2024, nonresiden jual neto Rp38,66 triliun di pasar SBN, beli neto Rp15,12 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp12,90 triliun di SRBI.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, BI mencatat premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 18 April 2024 sebesar 76,40 bps, turun dibandingkan 12 April 2024 sebesar 77,24 bps.

Erwin mengatakan tingkat imbal hasil SBN 10 tahun pada Jumat pagi (19/4/2024) tercatat turun ke level 6,91% dibandingkan dengan level pada Kamis (19/4/2024).

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," imbuhnya. 

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup turun ke level Rp16.260 pada perdagangan pada Jumat (19/4/2024), usai Israel dikabarkan menyerang wilayah Iran di kota Isfahan.

Rupiah melemah bersama beberapa mata uang Asia lainnya. Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah dengan turun 81 poin atau 0,50% ke Rp16.260 per dolar AS.

Adapun, indeks dolar AS melemah 0,09% ke 106,05. Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia ditutup bervariasi. Yen Jepang naik 0,15%, dolar Singapura stagnan, dolar Taiwan turun 0,45%, won Korea Selatan turun 0,64%, dan peso Filipina turun 0,73%. Kemudian rupee India naik 0,02%, yuan China turun 0,04%, ringgit Malaysia melemah 0,02%, dan baht Thailand turun 0,20%.

Siasat Sri Mulyani & BI saat Rupiah Ambyar dan Modal Asing Rp21,46 Triliun Kabur dari RI

Instruksi ke BUMN

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta kepada seluruh BUMN untuk melakukan pembelian dolar Amerika Serikat (AS) dengan tepat guna, bijaksana, dan sesuai prioritas dalam memenuhi kebutuhannya, bukan memborong.

Erick menyampaikan, situasi perang di Timur Tengah saat ini memberikan dampak pada bahan baku impor dan BUMN dengan porsi utang luar negeri (dalam dolar AS) yang besar seperti Pertamina, PLN, BUMN Farmasi, MIND ID.

"Arahan saya kepada BUMN adalah untuk mengoptimalkan pembelian dolar, artinya adalah terukur dan sesuai dengan kebutuhan, bukan memborong, intinya adalah jangan sampai berlebihan, kita harus bijaksana dalam menyikapi kenaikan dolar saat ini," ujar Erick melalui keterangan resmi, Jumat (19/4/2024).

Lebih lanjut, Erick mengatakan, hal ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam mengantisipasi dampak lanjutan dari gejolak geopolitik dan ekonomi global.

Pemerintah telah memiliki instrumen dalam bentuk devisa hasil ekspor yang ingin ditempatkan di dalam negeri. Selain itu, Pemerintah menginginkan impor konsumtif dapat ditahan terlebih dulu dalam menanggapi situasi saat ini.

"Untuk itu pengendalian belanja dan impor BUMN harus dengan prioritas dan sesuai dengan kebutuhan yang paling mendesak," kata Erick.

Erick mengingatkan, bagi BUMN yang memiliki eksposure impor dan memiliki utang dalam denominasi dolar AS agar lebih awas dan tidak membeli dolar secara berlebihan, dan menumpuk.

Menurutnya, tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energi.

"Situasi perang saat ini membuat harga energy Global akan sulit turun. Akibatnya Bank Sentral di seluruh dunia akan merespon dengan menunda kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper