Live Commerce Diramal Kian Jadi Pilihan, UMKM Makin Bisa Untung

Sejumlah riset global memprediksi perubahan tren e-commerce yang mengarah ke perdagangan langsung atau live shopping/live commerce.
Ilustrasi TikTok Shop./ Freepik
Ilustrasi TikTok Shop./ Freepik

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah riset global memprediksi perubahan tren e-commerce yang mengarah ke perdagangan langsung atau live shopping/live commerce yang dianggap bisa menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih menarik dibandingkan dengan sebelumnya.

Tren ini terjadi tak hanya Indonesia, tapi juga berkembang secara global. Citigroup, perusahaan keuangan asal AS, bahkan menghitung nilai live commerce di Negeri Paman Sam mencapai US$ 17 miliar atau setara Rp 264 triliun (kurs Rp 15.500/US$) di 2022. Tahun 2026 nilainya diprediksi mencapai US$ 55 miliar atau Rp 853 triliun. 

Di China, Citi mencatat nilai transaksi live commerce tembus US$ 17 miliar di 2018 dan diestimasi angkanya bisa mencapai US$ 687 miliar di 2023. Sementara pertumbuhan TikTok Shop di Asia Tenggara tahun 2022 mencapai 5%.

Live Commerce Diramal Kian Jadi Pilihan, UMKM Makin Bisa Untung

Menurut analis riset Citi, Ferry Wong dan Ryan Davis, perdagangan langsung memang mendapatkan daya tarik. Perkembangannya meluas tak hanya di China melainkan juga di AS dan global. “Namun membangun sistemnya memerlukan biaya investasi ratusan juta dolar untuk membangun jaringan dan lalu lintas yang layak demi mendorong retensi pengguna,” tulis riset Citi per Desember 2023, dikutip Kamis (28/3/2024).

Fionn Hyndman, founder Stickler, salah satu platform pendukung live commerce, mengatakan ekspansi pesat dan popularitas dari perdagangan langsung ini berawal dari Tiongkok dan menjalar kini terutama di Asia Tenggara. 

Live commerce TikTok, misalnya, mampu mencatatkan nilai transaksi bruto (GMV) sebesar US$ 20 miliar di 2023 pada pasar Asia Tenggara dan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan rata-rata gabungan (CAGR) yang mengejutkan sebesar 30% per bulan.

Secara global, Hyndman mencatat, jaringan terkemuka lain seperti YouTube, Shopify, dan Amazon juga ikutan live commerce. Amazon meluncurkan Amazon Inspire, platform dengan fungsi belanja langsung yang mirip dengan TikTok. YouTube juga mengumumkan mereka akan mengizinkan penjualan langsung langsung di video mereka dengan keranjang terintegrasi, dan transaksi terjadi di video tersebut.

“Konsumen tertarik pada live commerce karena mereka bisa terhubung langsung dengan merek, berinteraksi dengan pakarnya, mengajukan pertanyaan tentang produk, bertransaksi dengan lancar, dan bahkan menerima diskon,” kata Hyndman, dalam ulasan bertajuk “The rise of live commerce: Who's at risk of losing out?” dilansir Campaignasia.

Dampak UMKM

Awal tahun 2024, lembaga riset Ipsos, memaparkan alasan di baliknya masifnya penjualan online melalui fitur live shopping di e-commerce di 2023. 

Hasilnya, sebanyak 73% penjual menyatakan bahwa layanan live shopping di platform e-commerce mampu meningkatkan omzet mereka.

Tak hanya itu, sebanyak 68% penjual juga mampu memperluas ekspansi pasarnya, 64% penjual menilai mereka bisa menghemat biaya promosi, dan 60% penjual menilai fitur live streaming di e-commerce dapat memudahkan mereka berinteraksi dengan pelanggan online secara real-time.

Selain itu, sebanyak 59% penjual menyebut fitur live streaming dapat dipercaya oleh pelanggan, 49% penjual menganggap lebih aman dalam transaksi, serta 37% penjual merasa lebih unggul dalam persaingan dengan menggunakan fitur live streaming. “Dari studi yang ada, 80% masyarakat lebih senang mendapatkan informasi sebuah produk melalui visual atau penjelasan, dibandingkan mereka harus membaca sebuah deskripsi produk," ujar Direktur Eksekutif Ipsos, Andi Sukma, dalam keterangan resmi.

Andi menilai, keunggulan fitur live streaming di e-commerce dapat menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk mendongkrak penjualan barang secara online karena fitur tersebut dianggap dapat meningkatkan kedekatan antara penjual dan pembeli secara virtual. 

“Jadi faktor engagement terbangun. Tapi yang paling penting  menurut kami dari aktivitas live selling ini adalah dari sisi transparansi dan kejujuran dari kedua pihak [penjual dan pembeli]," kata Andi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

# Hot Topic

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper