Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ditopang China, Shell Ramal Permintaan LNG Dunia Tembus 685 Juta Ton

Shell memperkirakan permintaan gas alam cair atau LNG bakal naik 50% pada 2040 seiring dengan peralihan industri berbasis batu bara menuju gas di China.
Liquefied Natural Gas (LNG)./Istimewa
Liquefied Natural Gas (LNG)./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Outlook pasar LNG dari Shell memperkirakan permintaan gas alam cair atau LNG bakal naik 50% pada 2040 seiring dengan peralihan industri berbasis batu bara menuju gas di China dan sebagian negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. 

Shell memproyeksikan permintaan LNG pada 2040 bakal menyentuh di kisaran 625 juta ton sampai dengan 685 juta ton setiap tahunnya selepas 2040. 

Shell mencatat total perdagangan LNG global telah mencapai 404 juta ton pada 2023, naik signifikan dari perdagangan sepanjang 2022 di level 397 juta ton. 

Adapun, permintaan gas bumi di sejumlah negara telah mencapai puncaknya, akan tetapi tren kenaikan diproyeksikan tetap berlanjut hingga 2040 mendatang. 

“China kelihatannya bakal mendominasi pertumbuhan permintaan LNG dekade ini setelah industri berusaha untuk mengurangi emisi mereka dengan beralih ke gas,” kata Wakil Presiden Shell Energy Steve Hill seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (15/2/2024). 

Sementara itu, Steve mengatakan, penurunan produksi gas domestik di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara bakal mendongkrak permintaan LNG untuk upaya dekorbanisasi dari sejumlah negara berkembang ke depan. 

Kendati demikian, negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara perlu investasi yang terbilang masif untuk membangun infrastruktur gas impor nantinya. 

Di sisi lain, Shell memproyeksikan negara-negara dengan sumber energi baru terbarukan (EBT) seperti angin dan panel surya masih belum fleksibel untuk bergantung sepenuhnya pada pembangkit bersih saat ini. 

Seiring dengan peningkatan permintaan LNG impor dari China, kawasan Asia Selatan, dan Asia Tenggara, Jepang justru memperlihatkan tren penurunan impor LNG sejak 2011 lalu di tengah peningkatan kapasitas pembangkit nuklir di kawasan tersebut. 

Impor LNG dari Jepang menyentuh di level sekitar 60 juta ton pada 2023. Angka itu turun drastis dari pembelian sekitar 100 juta ton LNG pada 2011. 

Sementara itu, bauran gas mengambil porsi mencapai 30% pada upaya dekarbonisasi di Asia Tenggara sampai 2040 mendatang, dengan kapasitas rata-rata di level 400 gigawatt (GW). 

China mencatatkan bauran gas mencapai sekitar 4% dari keseluruhan kapasitas pembangkit, dengan total kapasitas terpasang sekitar 500 GW sampai 2040 mendatang. 

Seperti diberitakan sebelumnya, raksasa migas Jepang, Inpex Corporation tengah menjaring pembeli gas kontrak jangka panjang untuk proyek LNG Abadi Blok Masela.  

Inpex bersama dengan mitra, PT Pertamina Hulu Energi Masela dan Petronas Masela Sdn. Bhd., belakangan berfokus pada pasar LNG Asia yang diperkirakan bakal tumbuh signifkan sampai 2040 mendatang.  

Presiden & CEO Inpex Takayuki Ueda menuturkan, pihaknya telah mengantongi minat awal dari sejumlah pembeli di Asia yang tertuang dalam letter of intent (LoI). Potensi permintaan gas yang telah terhimpun sejauh ini mencapai sekitar 25 juta ton per tahun (mtpa).  

“Jadi tantangan ke depan adalah bagaimana bersama dengan Pertamina dan Petronas kita mesti mengubah minat yang tidak terikat ini menjadi perjanjian jual beli gas yang mengikat,” kata Takayuki saat konferensi pers financial result 2023, dikutip Kamis (15/2/2024). 

Takayuki mengatakan, pasar LNG di Asia belakangan prospektif untuk menyerap pasokan gas alam cair dari Blok Masela. 

Dia menuturkan, Inpex telah berkoordinasi dengan Pertamina dan Petronas untuk kemungkinan kontrak jangka panjang LNG dari lapangan gas Abadi tersebut.  

“Tanpa kontrak jual beli LNG jangka panjang, pembiayaan proyek [Abadi Masela] bakal kesulitan ke depannya, jadi kita mencari kontrak yang eksis dalam 10 tahun,” kata dia.  


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper