Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dulu Dinilai Berisiko, Kini Indonesia dan India Jadi Negara Favorit Investor

Indonesia dan India telah menjadi favorit investor asing setelah sebelumnya masuk dalam kategori “Fragile Five” dari Morgan Stanley.
Warga beraktivitas dengan latar suasana gedung perkantoran di Jakarta, Rabu (2/8/2023)/Bisnis-Himawan L Nugraha
Warga beraktivitas dengan latar suasana gedung perkantoran di Jakarta, Rabu (2/8/2023)/Bisnis-Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - India dan Indonesia sempat masuk dalam kategori “Fragile Five” dari Morgan Stanley. Namun, kini kedua negara menjadi tujuan favorit investor

Analis alokasi aset taktis untuk multi aset di Fidelity International di London Kitty Yang mengatakan bahwa baik India maupun Indonesia memiliki fundamental jangka pendek dan jangka panjang yang kuat. 

“Pertumbuhan didukung oleh reformasi positif (dan berkelanjutan) selama 10 tahun terakhir di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Modi dan Presiden Jokowi,” terangnya, seperti dikutip dari BloombergSenin (12/2/2024).

Para manajer dana termasuk Fidelity International, Robeco Group dan abrdn, mengatakan bahwa prospek obligasi dan mata uang kedua ‘raksasa’ di Asia semakin cerah, menyusul keberhasilan program reformasi dan pengendalian fiskal. 

Adapun, Fragile Five yang pertama yang mencakup Turki, Afrika Selatan, dan Brasil, merujuk pada negara-negara yang dianggap paling berisiko karena ketergantungan mereka pada investasi asing untuk mendorong pertumbuhan.

Investor luar negeri diketahui telah menggelontorkan dana gabungan sebesar US$14 miliar atau sekitar Rp218 triliun ke obligasi India dan Indonesia pada 2023, bahkan ketika pasar utang global dijual karena prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. 

Jumlah dana yang digelontorkan tersebut kemudian menjadi arus masuk gabungan tertinggi ke kedua negara sejak 2019, dibandingkan dengan arus keluar pada 2013 yang sebesar US$3,9 miliar. 

Prospek Indonesia

Indonesia dinilai telah mengambil langkah besar dalam meningkatkan keuangannya. 

Manajer dana di Pacific Investment Management Co. di Hong Kong, Stephen Chang mengatakan bahwa Indonesia sangat disiplin dalam menjaga defisit fiskal di bawah ambang batas 3%, kecuali untuk beberapa tahun selama pandemi

“Bahkan dengan pemerintahan baru, kami yakin beberapa kebijakan ekonomi ini akan terus berlanjut,” terangnya. 

Pemilihan umum (pemilu) Indonesia juga akan berlangsung pada 14 Februari 2024 yang sebelumnya menjadi faktor risiko yang besar bagi investor. Namun, saat ini  pemilu dipandang sebagai hal yang tidak terlalu mengkhawatirkan mengingat reformasi sudah begitu mengakar.

Hal tersebut terlepas dari fakta bahwa kandidat terdepan dari survei Bloomberg, Prabowo Subianto, berkampanye dengan janji makan siang gratis untuk 83 juta penerima manfaat, dan merasa nyaman dengan peningkatan utang negara hingga sebanyak 50% dari PDB. 

Pasar juga dinilai khawatir terhadap potensi pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang dianggap telah menstabilkan keuangan pemerintah. 

“[Sri Mulyani telah menjadikan Kementerian Keuangan] tempat yang lebih baik daripada yang ia temukan pada masa jabatannya, dan hal ini membantu tesis investasi fundamental bagi Indonesia,” jelas ahli strategi kedaulatan Asia di Robeco Group di Singapura, Philip McNicholas.

Namun, ia berpendapat bahwa tampaknya tidak akan terjadi kemunduran yang nyata dalam keseluruhan proses kementerian.

Lanjutnya, McNicholas juga berpendapat bahwa prospek Indonesia dan India akan tetap positif.

“Kedua negara tersebut memiliki prospek ekonomi jangka panjang yang baik. Masih banyak hal yang belum dapat dicapai, yang menawarkan ruang untuk meningkatkan prospek pertumbuhan lebih lanjut,” jelasnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper