Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kemenhub Optimistis Penumpang Pesawat Tembus 77,2 Juta pada 2024

Kemenhub optimistis pergerakan penumpang pesawat mencapai 77,2 juta pada 2024.
Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta./ Dok. Angkasa Pura II
Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta./ Dok. Angkasa Pura II

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) optimistis pergerakan penumpang pesawat akan kembali tumbuh dan mencapai sekitar 77 juta orang sepanjang 2024. Meski demikian, pertumbuhan ini diprediksi belum akan kembali ke level sebelum pandemi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub M. Kristi Endah Murni memaparkan pihaknya optimistis industri penerbangan akan kembali tumbuh pada tahun ini. Hal tersebut mengingat sektor penerbangan sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan pemulihan ekonomi global.

Kristi mengatakan, pemulihan tersebut juga akan berimbas pada pertumbuhan trafik penumpang pesawat pada 2024. Kemenhub memproyeksikan pertumbuhan penumpang domestik untuk 2024 akan naik 16% dibandingkan 2023.

Sementara itu, pertumbuhan penumpang internasional diprediksi mencapai sekitar 33% dibandingkan dengan tahun lalu.

“Untuk target penumpang tahun ini adalah sebesar 77,2 juta untuk dalam negeri dan penumpang internasional 38,3 juta,” kata Kristi, Jumat (12/1/2024).

Dia melanjutkan,  jumlah penumpang dan penerbangan internasional diprediksi hampir kembali ke tingkat sebelum pandemi pada 2024 dengan pertumbuhan 3% untuk penumpang dan 2% untuk pergerakan pesawat.

Sementara itu, untuk penumpang dalam negeri diproyeksikan belum kembali ke level sebelum pandemi dengan recovery rate sebesar 97% untuk penumpang dan 78% untuk pergerakan pesawat.

Kristi menuturkan, salah satu penyebab pemulihan ini belum kembali ke level pra pandemi adalah naiknya biaya operasional. 

Dia menjelaskan, pada 2023 unsur biaya produksi terutama bahan bakar dan kurs dolar AS terhadap rupiah cenderung mengalami kenaikan. Hal ini membuat badan usaha angkutan udara atau maskapai menaikkan harga tiket pesawat mendekati tarif batas atas (TBA).

"Mereka juga memberlakukan fuel surcharge untuk menekan kondisi keuangan perusahaan seiring dengan kenaikan biaya produksi," ujar Kristi.

Selain itu, sektor penerbangan Indonesia maupun global juga masih menghadapi masalah keterbatasan jumlah pesawat yang tersedia. Kristi mengatakan, keterbatasan penyediaan pesawat pada 2023 oleh Badan Usaha Angkutan Udara mengalami penurunan sekitar 3%, sehingga mempengaruhi pertumbuhan penumpang.

Kemudian, tren pemulihan juga akan dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan ekonomi sektor transportasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal III/2023 menyebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi khususnya sektor transportasi adalah 15,3%.

“Sementara, pada tahun 2022 rata-rata pertumbuhan 20,97%, atau mengalami penurunan 5,67% pada 2023. Penurunan tersebut berdampak pada perlambatan pertumbuhan penumpang khususnya angkutan udara,” pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper