Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RI Masih Ketergantungan Impor Bahan Baku, Ganjar: Perlu Dibatasi

Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku perlu dibatasi.
Capres Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo dalam Dialog Capres Bersama Kadin: Menuju Indonesia Emas 2045 pada Kamis (11/1/2024). Dok Youtube Kadin Indonesia.
Capres Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo dalam Dialog Capres Bersama Kadin: Menuju Indonesia Emas 2045 pada Kamis (11/1/2024). Dok Youtube Kadin Indonesia.

Bisnis.com, JAKARTA - Calon presiden (Capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku/penolong dapat dibatasi tanpa mengganggu keberlangsungan usaha pelaku industri.

Dalam hal ini, Ganjar tak menepis peran penting mitra strategis untuk perdagangan komoditas, sekaligus memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

"Kalau kita belum bisa buat sendiri, kalau gitu 'Oke kita impor dari anda' tetapi kita kasih batasan waktu agar terjadi transfer of anything, ya knowledge-nya, modalnya, apapun lah," kata Ganjar dalam Dialog Capres Bersama Kadin, Kamis (11/1/2024).

Dia pun menyoroti salah satu topik yang yang ditekankan terkait dengan Kerjasama Selatan-Selatan (KSS), terlebih untuk berhadapan dengan negara maju. Salah satu yang dicontohkan yakni kolaborasi dengan Argentina dalam hal eksplorasi nikel.

"Kita mau buat nikel, beberapa material kita tidak punya tetapi Argentina punya, maka kemudian ya sudah kita kerja sama selatan-selatan dengan Argentina," tuturnya.

Begitupun dengan komoditas atau bahan baku industri yang tidak ada materialnya di RI, maka Kerjasama Selatan-Selatan dapat dilakukan.

Sebagaimana diketahui, Kadin mencatat 76,9% impor merupakan bahan baku dan bahan penolong untuk industri manufaktur dalam negeri. Sementara itu, 14,9% impor juga merupakan barang modal yang penting bagi perekonomian indonesia.

Di sisi lain, Ganjar menyampaikan terkait dengan potensi nikel yang masih perlu diperhitungkan keuntungan dan mitigasi kerusakan dalam pengembangannya. Namun, dia mengingatkan bahwa komoditas unggulan seperti batu bara dan CPO tidak dapat langsung digantkan oleh nikel.

"Ekonomi kita kalau gak salah, kalau coal-nya dihilangkan agak mengerikan gambarnya ya, tetapi ketika coal-nya ditambahin baru naik," terangnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper