Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pejabat The Fed Kirim Sinyal Tak Buru-Buru Pangkas Suku Bunga

Pejabat The Fed memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga jangka pendek mungkin perlu dilanjutkan.
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Mingg (10/4/2022). Bloomberg/ Tom Brenner
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Mingg (10/4/2022). Bloomberg/ Tom Brenner

Bisnis.com, JAKARTA - Pejabat Federal Reserve atau The Fed memperingatkan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut mungkin perlu melanjutkan kenaikan suku bunga kebijakan jangka pendeknya. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Federal Reserve (The Fed) Bank of Dallas Lorie Logan pada Sabtu (5/1) dengan alasan untuk menjaga penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang baru-baru ini, agar tidak memicu inflasi lebih lagi. 

“Jika kita tidak menjaga kondisi keuangan yang cukup ketat, ada risiko bahwa inflasi akan kembali naik dan membalikkan kemajuan yang telah kita capai,” jelas Logan dalam sambutannya pada konferensi American Economic Association di San Antonio, Texas, seperti dikutip dari Reuters, Senin (8/1).

Lanjutnya, Logan juga mengatakan bahwa tidak boleh mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga lagi dengan mempertimbangkan pelonggaran kondisi keuangan dalam beberapa bulan terakhir. 

Sebagaimana diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuannya secara agresif pada 2022 dan awal 2023 dengan maksud untuk menurunkan inflasi yang sempat mencapai rekor tertinggi dalam 40 tahun. Namun, sejak Juli 2023, The Fed telah mempertahankan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5%.

Para pengambil kebijakan Desember 2023 memberi sinyal bahwa pihaknya telah melihat cukup banyak kemajuan dalam inflasi, yang mungkin dapat dicapai dengan kenaikan suku bunga dan beralih ke penurunan suku bunga pada 2024. 

Adapun, pasar keuangan merespons dengan bertaruh besar pada penurunan suku bunga dengan tajam pada 2024. Namun, pandangan Logan menandai penolakan terhadap pertaruhan tersebut.

Logan mengatakan bahwa dengan sebagian besar dampak kenaikan suku bunga The Fed di masa lalu sudah berlalu, penurunan imbal hasil obligasi (Treasury) 10 tahun yang dapat menjadi patokan, yakni sekitar 5% pada pertengahan Oktober 2023 menjadi sekitar 4% pada saat ini, dapat membuka jalan bagi peningkatan permintaan yang bisa membatalkan kemajuan dalam menangani inflasi.

“Kondisi keuangan yang ketat telah memainkan peran penting dalam menyelaraskan permintaan dengan pasokan dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terjaga,” jelasnya, sambil mencatat bahwa inflasi telah turun mendekati target 2% Fed dan pasar tenaga yang sedang menyeimbangkan kembali, meskipun masih ketat. 

Dia kemudian juga menuturkan bahwa tidak bisa mengandalkan stabilitas harga, jika tidak menjaga kondisi keuangan yang cukup ketat. 

Logan juga memberi isyarat, bahwa dia sudah merasa waktunya untuk mulai berpikir dalam memperlambat proses penyusutan neraca The Fed. 

"Dalam pandangan saya, kita harus memperlambat laju limpasan [karena saldo perjanjian pembelian kembali semalam mendekati tingkat yang rendah].” jelasnya. 

Sebagai catatan, pernyataan Logan sangat penting karena ia merupakan salah satu pengambil kebijakan The Fed yang pertama, pada Oktober 2023 lalu, mengatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang membantu sebagian upaya The Fed, sehingga dapat mempertahankan suku bunga kebijakan pada levelnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper