Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Adu 'Mantra' Bank Sentral Dunia (AS, Rusia, hingga China) Jaga Moneter

Kebijakan bank sentral dunia berfokus pada perekonomian di dalam negeri. Terutama untuk menjinakkan inflasi.
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Selasa, beberapa waktu lalu. Bloomberg/Graeme Sloan
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Selasa, beberapa waktu lalu. Bloomberg/Graeme Sloan

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank sentral di seluruh dunia tengah berjibaku mengendalikan inflasi dan menjaga nilai tukar negaranya sesuai kebijakan ekonomi masing-masing. Kebijakan moneter ini bahkan meninggalkan tradisi ekonomi zona, dan berfokus menjaga internal dalam negeri. Hasilnya, kebijakan paling ekstrim dilakukan dengan menaikkan suku bunga acuan secara cepat serta menyerap kelebihan likuiditas pasar uang dengan melakukan operasi moneter guna meredakan inflasi yang juga disebut 'pembunuh berdarah dingin' itu.

Kebijakan moneter ini diharapkan mendingin ekonomi akibat suku bunga kredit perbankan naik tinggi. Akan tetapi kebijakan ini menimbulkan dampak, beban masyarakat naik karena lonjakan pinjaman kredit yang harus dibayar. Sedangkan pemilik uang, cenderung memilih deposito daripada investasi membuka usaha karena memberikan imbal hasil lebih tinggi dan minim risiko. Kebijakan suku bunga tinggi sendiri disinyalkan akan berlaku untuk jangka panjang (higher-for-longer).

Pekan lalu, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19-20 September 2023 waktu setempat. Seperti dilaporkan oleh Reuters, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 5,25 persen—5,50 persen sambil tetap mempertahankan sikap hawkish.

Para petinggi otoritas moneter Paman Sam tersebut pun memproyeksikan kenaikan suku bunga akan kembali terjadi pada akhir tahun, dengan mencapai level 5,50 persen—5,75 persen.

“Inflasi tetap tinggi,” ujar The Fed dalam FOMC, Rabu (20/3/2023) waktu setempat.

Salah satu pertimbangan The Fed menahan suku bunga acuan adalah pertumbuhan ekonomi dan data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Selain itu, kebijakan moneter The Fed kali ini, diklaim menjadi salah satu bentuk otoritas moneter AS tersebut untuk menjaga prospek ‘soft landing’ dari perekonomian Paman Sam.

Soft landing karena negara itu saat pandemi corona menyerbu menjalankan sejumlah stimulus skala raksasa dan membanjiri pasar keuangan dengan uang mudah (easy money).

The Fed menunjukkan indikasi bahwa suku bunga acuan baru 2024 akan mengalami penurunan. Suku bunga acuan The Fed alias Fed Fund Rate berpeluang turun menjadi 5,10 persen pada akhir 2023 dan 3,9 persen pada akhir 2024.

Sementara itu, inflasi AS diproyeksikan turun menjadi 3,3 persen pada akhir tahun ini dan kembali turun menjadi 2,5 persen pada 2024. Selanjutnya pada 2025 inflasi kembali turun menjadi 2,2 persen.

Kepala ekonom di Dreyfus dan Mellon dan mantan kepala divisi kebijakan moneter The Fed, Vincent Reinhart berpendapat bahwa terdapat risiko tambahan dimana neraca keuangan The Fed (balance sheet) kini mencapai tingkat yang tak terduga, yang dapat memperketat kondisi keuangan.

"Resesi berasal dari guncangan-guncangan yang berkaitan dengan kerentanan ekonomi. Jika Anda terlambat dalam siklus pengetatan, suku bunga dana dibatasi, buffer telah diturunkan, maka Anda lebih rentan," jelasnya.

Keputusan The Fed dalam FOMC kali ini menurut ekonom merupakan pertanda inflasi masih belum terkendali.

"Mereka tidak cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa mereka telah menaklukkan inflasi," jelas pendiri MacroPolicy Perspectives LLC dan mantan ekonom the Fed, Julia Coronado, dikutip dari Bloomberg.

Menurutnya, inflasi masih terlalu tinggi sehingga opsi kenaikan suku bunga masih dibuka pada hingga akhir tahun ini.

Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mulai menurunkan suku bunga pada akhir Juni 2024 dengan laju penurunan secara bertahap setiap tiga bulan sejak saat itu.

Para ekonom Goldman, termasuk Jan Hatzius dan David Mericle, dalam laporannya bulan lalu mengatakan penurunan suku bunga acuan dilakukan setelah inflasi turun mendekati target bank sentral.

Tim Goldman memperkirakan pertemuan The Fed pada November 2023 bahwa tren inflasi inti sudah cukup melambat, sehingga kenaikan terakhir tidak diperlukan.

"Kami melihat risiko yang signifikan bahwa FOMC akan tetap bertahan [untuk bunga acuan tinggi]," tulis para ekonom Goldman.

Kebijakan Suku Bunga Eropa, China, Indonesia, Hingga Rusia

Saat Amerika memutuskan menahan suku bunga acuan bank sentralnya di level tinggi, negara sekutunya yakni Eropa memilih menaikkan suku bunga acuan.

Bank sentral Eropa (ECB) pada Kamis (14/9/2023) menaikkan suku bunga simpanan sebesar 25 basis poin (bps). Level ini menandakan kenaikan biaya pinjaman selama 10 kali berturut-turut.

ECB melaporkan kenaikan pada suku bunga dan suku bunga pinjaman masing-masing sebesar 25 bps. Suku bunga September 2023 naik menjadi 4,50 persen dan suku bunga simpanan menjadi 4 persen.

Mengutip Bloomberg, keputusan untuk menaikan suku bunga deposito ke level 4 persen dilakukan dengan harapan membawa inflasi di bawah 2 persen pada akhir proyeksi ECB pada 2025.

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengakui bahwa dampak operasi moneter akan dalam jangka pendek akan membuat pertumbuhan ekonomi akan sangat lamban dan bahkan berbalik arah menyusut. Lagarde mengutarakan bahwa saat ini adalah masa-masa yang sulit. Dia juga berdalih pengetatan moneter lebih lanjut diperlukan untuk stabilitas harga, bukan untuk memaksakan resesi.

"Fokusnya mungkin akan bergerak sedikit lebih ke durasi, namun bukan berarti - karena kita tidak bisa mengatakan - bahwa saat ini kita sudah berada di puncak," jelas Lagarde.

Namun, pernyataan tersebut cenderung tidak berdampak baik bagi di negara-negara seperti Italia, yang merasakan dampak kenaikan suku bunga dan hanya mengalami kontraksi triwulanan.

"Keputusan baru ini - yang saya yakin diambil oleh mayoritas, dan karena itu ditentang oleh beberapa pihak - saya yakin tidak akan membantu pemulihan ekonomi Eropa," jelas Menteri Industri Italia Adolfo Urso.

Dia menyebutkan Jerman sudah dalam resesi, dan adanya negara-negara lain yang terkait dengan sistem Jerman seperti Belanda. Para pengambil kebijakan sendiri mengatakan bahwa inflasi masih diperkirakan tetap terlalu tinggi untuk waktu yang lama, baik dalam ukuran utama ataupun ukuran inti yang tidak memasukan energi dan makanan. Pertumbuhan harga masih tertahan di atas 5 persen.

 

Halaman
  1. 1
  2. 2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg & Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper