Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pertamina Jawab Sentilan Bahlil Soal Kuasai Blok Migas tapi Produksi Tak Naik

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memastikan aset blok migas yang saat ini dikelola perseroan digarap secara optimal.
Gedung Pertamina./Istimewa
Gedung Pertamina./Istimewa

Bisnis.com, BADUNG — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding upstream PT Pertamina (Persero), memastikan aset blok migas yang saat ini dikelola perseroan digarap secara optimal.

Pertamina pun tidak ambil pusing dengan langkah pemerintah untuk membatasi konsesi wilayah kerja (WK) migas mereka saat ini. 

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Wiko Migantoro mengatakan, perseroan bakal tetap fokus untuk mengembangkan aset yang saat ini dimiliki Pertamina di sisi hulu. 

“Kewenangan untuk memberikan WK itu di pemerintah bukan di kami, tapi yang kami kuasai kami kerjakan secara optimal,” kata Wiko saat ditemui Bisnis di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9/2023). 

Wiko memastikan aset blok migas yang saat ini dikelola Pertamina terus mengalami peningkatan signifikan. Seperti diketahui, Pertamina berkontribusi sekitar 70 persen untuk target lifting migas nasional saat ini. 

“Produksi terus naik,” kata dia.

Sebelumnya, PHE melaporkan produksi migas mencapai di angka 1,046 juta barel setara minyak per hari (Mboepd) sepanjang Januari hingga Juni 2023 atau naik 8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.  

Produksi migas itu ditopang oleh kinerja positif pada produksi minyak di level 570.000 barel per hari (Mbopd) dan produksi gas di angka 2.757 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd).  

Capaian itu didukung oleh penyelesaian rencana kerja pengeboran 7 sumur eksplorasi, 359 sumur pengembangan, 371 workover, dan 16.286 well services. Selain itu, PHE juga mencatatkan survei seismik 3D sepanjang 478 kilometer persegi. 

Kendati demikian, PHE melaporkan sejumlah lapangan tua yang saat ini dikelola Pertamina mengalami penurunan produksi alamiah atau declined rate lebih dari 50 persen.  Sejumlah WK yang tercatat mengalami penurunan produksi signifikan itu, di antaranya Rokan, Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS). 

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina EP Cepu (PEPC), Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina Endro Hartanto berharap perusahaan pelat merah masih menjadi ujung tombak eksplorasi sekaligus pengembangan blok migas di wilayah barat dan timur. Kendati demikian, Endro mengatakan, perlu ada fokus nantinya. 

Endro mengatakan, lelang blok migas bakal bersifat kompetitif lantaran dilakukan terbuka. Artinya, penawaran dan komitmen investasi yang kompetitif bakal relatif ditunjuk pemerintah untuk mengelola suatu wilayah kerja.

“Sebenarnya bukan dibagi, kan sebeneranya semua mengajukan proposal. Kalau proposal ke pemerintah bagus yang dikasih menang pemerintah lah. Jadi bukan bagi-bagi,” kata dia. 

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah meminta agar potensi sumur-sumur migas yang tidak bisa dioptimalkan Pertamina untuk diserahkan kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) swasta, baik domestik maupun luar negeri.  

Selain itu, pemerintah juga menyoroti konsesi yang saat ini dipegang Pertamina terlalu luas, sementara lifting migas terus mengalami penurunan signifikan setiap tahunnya. 

“Kemarin dalam ratas Presiden [Jokowi] sudah memberi arahan agar peluang-peluang sumur yang tidak bisa dioptimalkan oleh Pertamina itu agar dibuka untuk umum untuk segera kita melakukan eksplorasi dalam rangka menaikkan produksi,” kata Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat memberi sambutan dalam the 4th International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas Industry 2023 (ICIUOG) di Nusa Dua, Rabu (20/9/2023). 

Bahlil menuturkan, Presiden Jokowi meminta agar lelang-lelang baru untuk blok migas dapat diprioritaskan untuk KKKS swasta nasional. Selain itu, kata dia, pemerintah juga mendorong partisipasi yang lebih intensif dari KKKS internasional lewat kemudahan serta insentif fiskal lainnya untuk industri hulu migas mendatang.  

Dia mengatakan, tren lifting migas belakangan terus mengalami penyusutan di tengah penguasaan mayoritas Pertamina pada sisi hulu migas nasional. Situasi itu, kata dia, mesti diantisipasi lewat penyertaan lebih aktif KKKS swasta pada lapangan-lapangan lain di luar aset Pertamina saat ini.  

“Pertamina konkret saja mana yang bisa kalian lakukan, mana yang tidak jangan semua sumur dibikinin semua, tapi produksinya tidak naik-naik, karena kita impor terus, ada ribuan sumur sekarang Pertamina menguasai 3.000 sumur lebih. Pemerintah itu berpihak pada BUMN, tapi produktivitasnya juga penting,” kata dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper