Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Didominasi Permintaan Domestik, PMI Manufaktur Indonesia Januari 2023 Naik Tipis

Purchasing manager’s index (PMI) manufaktur Indonesia Januari 2023 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,4 poin menjadi 51,3.
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - S&P Global merilis purchasing manager’s index (PMI) manufaktur Indonesia pada Januari 2023 yang mengalami kenaikan tipis sebesar 0,4 poin menjadi 51,3. Sebelumnya, PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2022 lalu berada di angka 50,9.

Economics Associate Director S&P Global Jingyi Pan menyebut, kenaikan PMI ini berkaitan dengan permintaan yang didominasi dari pasar domestik, di tengah penurunan permintaan dari luar negeri yang menjadi kendala terbesar bagi sektor ini pada 2022 lalu. 

“Sektor terkonsentrasi pada perekonomian domestik, dengan permintaan baru dari luar negeri jatuh pada kisaran tercepat yang menggambarkan penurunan kondisi eksternal,” kata Jingyi dalam keterangan tertulis, Rabu (1/2/2023).

Meskipun demikian, Jingyi menuturkan, kondisi sektor manufaktur Indonesia pada Januari 2023 menunjukan tanda positif. Baik output maupun permintaan baru naik pada Januari, pada laju tercepat selama tiga bulan dengan pertumbuhan secara fraksional lebih baik dari segi penjualan.

Kenaikan PMI manufaktur Indonesia pada Januari ini merupakan kenaikan yang sedang, tetapi menjadi angka PMI tertinggi sejak Oktober 2022 lalu.

Akan tetapi, industri manufaktur masih dihantui oleh permasalahan tekanan biaya pada bulan Januari 2023 ini. Pemasok melaporkan masih meneruskan beban biaya kenaikan harga bahan baku. 

Namun demikian, tingkat inflasi menurun selama 7 bulan berturut-turut mencapai posisi terendah selama lebih dari 2 tahun.

“Sementara itu, tekanan harga di sektor manufaktur Indonesia terus berkurang, dengan biaya input naik pada laju lambat selama lebih dari 2 tahun dan inflasi biaya output turun hingga posisi rendah 20 bulan,” tambah Jingyi.

Meskipun dinilai masih tinggi, penurunan lebih lanjut pada tekanan harga diharapkan mendorong Bank Indonesia untuk mengurangi pengetatan kebijakan. Hal ini akan menjadi pertanda baik bagi perusahaan untuk menghadapi tahun 2023 ini.

“Keseluruhan sentimen di sektor manufaktur membaik dari posisi rendah pada bulan Desember dan mendorong perusahaan untuk memperluas tingkat inventaris mereka, menunjukkan kinerja jangka pendek yang lebih baik,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper