Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ancaman Resesi 2023, Ini Arahan Jokowi untuk Menteri hingga BI

Simak arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk para menteri hingga Bank Indonesia (BI) terkait ancaman resesi 2023.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 06 Desember 2022  |  20:48 WIB
Ancaman Resesi 2023, Ini Arahan Jokowi untuk Menteri hingga BI
Presiden Jokowi memberikan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah Tahun Anggaran 2023, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/12/2022). - Dok. Youtube Setpres RI.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan sejumlah arahan untuk mengantisipasi dampak gejolak perekonomian global, khususnya ancaman resesi 2023, pada sidang kabinet paripurna, Selasa (6/12/2022).

Airlangga menyampaikan, gejolak global akibat perang Rusia dan Ukraina masih perlu diwaspadai, juga sejumlah risiko lainnya, seperti berlanjutnya disrupsi rantai pasok global, cuaca ekstrem, inflasi tinggi, hingga kenaikan suku bunga secara global.

Dia mengatakan, pemerintah akan mengupayakan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak gejolak global tersebut terhadap stabilitas perekonomian di dalam negeri.

Pertama, Jokowi memberikan arahan agar devisa hasil ekspor dapat disimpan lebih lama di dalam negeri guna memperkuat cadangan devisa.

“Tentunya dari Bank Indonesia [BI] bisa buat sebuah mekanisme sehingga ada periode tertentu cadangan devisa yang bisa disimpan dan diamankan di dalam negeri,” katanya dalam Keterangan Pers Menteri terkait Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Selasa (6/12/2022).

Airlangga mengatakan, kinerja ekspor yang positif, bahkan telah berkontribusi pada surplusnya neraca perdagangan selama 30 bulan beruntun diharapkan dapat mempertebal cadangan devisa di dalam negeri.

“Ini menjadi domain BI dan diharapkan ekspor 30 bulan menghasilkan devisa positif, neraca perdagangan positif dan neraca pembayaran yang surplus 1,3 dari PDB [produk domestik bruto] yang relatif aman, ini perlu diperkuat dengan ekosistem keuangan yang berbasis devisa asing,” jelasnya.

Selain itu, Jokowi mengarahkan agar cadangan nasional bisa ditingkatkan dengan memperhatikan dan memonitor seluruh komoditas, seperti bawang merah, cabai, beras, bawang putih, daging sapi atau lembu, ayam ras, telur, gula konsumsi, minyak goreng dan cabai rawit.

Pemerintah juga akan memberikan fasilitas pinjaman kepada Perum Bulog atau PT RNI Persero (ID Food) dengan tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan tingkat bunga di pasar.

“Pembiayaan yang diberikan kepada Bulog atau ID Food, pemerintah telah mempersiapkan lewat Kementerian Keuangan, di mana nilai pinjaman untuk Bulog dan ID Dood diberikan dengan rate tertentu yang lebih rendah dari mekanisme pasar,” kata Airlangga.

Di sektor energi, Jokowi mengarahkan agar mekanisme implementasi B35, program biodiesel menjadi 35 persen, direncanakan secara baik pada tahun depan

“Arahan Presiden tahun depan dibuatkan mekanisme implementasi B35 yang direncanakan baik, karena saat sekarang, harga biodiesel lebih rendah dari biosolar maka biodiesel tak disubsidi dengan Harga seperti ini. Tentu dengan B35 akan mengurangi ketergantungan dari impor,” katanya.

Dia menambahkan, pemerintah telah meraih komitmen investasi mendekati US$30 juta. Dalam hal ini, Jokowi mengarahkan agar proses perizinan terkait industri, konstruksi, dan amdal diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi airlangga hartarto Resesi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top